728x90 AdSpace


Latest News
Rabu, 10 Mei 2017

Ahok Sudah Ditahan, Saatnya Kita Melawan "SHARE BUAT PENDUKUNG AHOK"


BERITA TERKINI -  Ahok sudah divonis 2 tahun penjara. Vonis ini jauh lebih berat daripada tuntutan jaksa. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang yang kemudian menyalahkan Presiden Jokowi. Padahal dalam sistem demokrasi seperti Indonesia, seorang Presiden sudah seharusnya tidak mengintervensi hukum. Bahwa selama ini Indonesia pernah dipimpin oleh Presiden yang kerap mengintervensi hukum, itu tidak boleh dijadikan pembenaran, sekalipun kita semua yakin Ahok tidak bersalah.

Saya paham dan sadar, Jokowi terlalu jujur untuk menjadi Presiden di Indonesia. Dengan segala kekuatan dan jaringannya, terlalu mudah baginya untuk memenangkan Ahok di Pilgub DKI melawan Anies sang menteri pecatan. Mudah sekali. Inilah kenapa kubu cendana kerap melancarkan fitnah bahwa kalau Ahok menang pasti curang. Dan menurut informan A1 Seword, kubu sebelah pun kaget kenapa malah Anies yang menang? Padahal geng 98 yang dulu berhasil menolak Habibie dan melengserkan Gusdur sudah melakukan konsulidasi. Saking yakinnya bahwa mereka akan kalah. Kesempatan untuk rusuh dan sebagainya pun terlewat begitu saja.

Serangan selanjutnya yang difitnahkan pada Jokowi adalah Ahok dilindungi. Narasi ini sudah ada sejak tahun lalu. Ahok dituduh korupsi Sumber Waras dan reklamasi, namun semua tidak bisa dibuktikan di pengadilan. Malah lawannya, politisi Gerindra yang diciduk KPK. Buzzer dan pemfitnah nya pun bukan lagi kalangan anonim yang tidak jelas identitasnya, sekelas Fadli Zon sang pimpinan DPR itu sampai membuat pernyataan bahwa ada rumor Jokowi melindungi Ahok, yang kemudian dikutip oleh banyak media mainstream.

Gagal di kasus korupsi, pindah ke kasus penistaan agama, mereka kembali memfitnah bahwa Jokowi melindungi Ahok. Kembali ada gerakan atau opini bahwa pemerintah anti Islam, ormas (HTI) Islam dibubarkan, penista agama dibiarkan. Namun lagi-lagi fitnah mereka salah alamat. Ahok divonis 2 tahun penjara. Jokowi bukanlah Presiden Indonesia seperti yang sebelumnya. Sekali dia bilang tidak akan mengintervensi hukum, maka tak ada intervensi sedikitpun.

Fitnah-fitnah yang dituduhkan pada Presiden Jokowi semuanya mentah. Sumber Waras, Pilkada dan penistaan agama. Apakah mereka akan minta maaf? Tidak perlu ditanya. Mereka ini setan dan titisan orde baru. Soal skenario, fitnah propaganda, sampai membunuh orang sudah biasa bagi mereka. Dan memang tak punya rasa malu apalagi nuarani. Jadi tak perlu tuntut mereka untuk minta maaf, sebab sejak 2014 lalu sudah tak terhitung berapa fitnah yang mereka buat untuk kampanye dan mengganggu Presiden Indonesia terpilih, Jokowi.

Yang terpenting dari paragraf pembuka ini adalah, kita semua keluarga Seword, baik penulis maupun pembaca, jadi paham siapa sebenarnya lawan kita? Ini supaya peta nya jelas dan kita tidak menghabiskan energi untuk terpecah belah.

Saatnya melawan

Saya menyadari bahwa divonisnya Ahok selama 2 tahun penjara membuat banyak orang kecewa. Saya pun sama, kecewa sekali. Apalagi vonisnya malah lebih berat dari tuntutan jaksa.

Tapi begini, jika kita melawan Jokowi, tidak percaya pada pemerintah, mau golput dan tidak lagi mendukung dan seterusnya, itu sama saja kalian mendukung lawan-lawan Ahok. Kalian sama saja dengan mendukung kelompok orang yang bahagia karena Ahok dipenjara. Karena dengan kalian berhenti mendukung Jokowi, maka secara otomatis pihak lawan, si cendana kampret itu, akan memiliki lebih banyak pendukung. Dan bisa ditebak, 2019 akan jadi momen kembalinya si bengis orde baru.



Kekecewaan kalian kepada pemerintah Jokowi memang sangat diinginkan oleh kubu lawan. Kita harus sadar dan mengerti siapa lawannya? Dan itu sudah saya jawab di awal artikel ini. Kemudian pertanyaannya adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Ahok sudah divonis 2 tahun penjara hanya karena satu pernyataan “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa.”

Untuk itu, demi tegaknya keadilan, maka orang seperti Rizieq yang pernah melecehkan budaya sunda “sampurasun” menjadi “campuracun, menghina dan menistakan Pancasila “Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan Pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala,” melecehkan kepercayaan ummat kristen dengan pernyataan “Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?” memfitnah Bank Indonesia dan menyebut ada palu arit di pecahan uang rupiah yang baru setera terakhir menghina profesi hansip “Di Jakarta Kapolda mengancam akan mendorong Gubernur BI untuk melaporkan Habib Rizieq. Pangkat jenderal otak hansip,” harus diproses secara hukum.

Lima pernyataan Rizieq ini masih di luar kasus lain yang belum dilaporkan seperti mengancam akan membunuh Ahok, menyebut istana dajjal dan mencaci maki Presiden serta Menteri Agama, menyebut orang lain kutil babi, dan seterusnya.

Satu pernyataan Ahok berhasil membuatnya divonis 2 tahun, lalu bagaimana dengan 5 pernyataan Rizieq yang sudah dilaporkan ke Polisi? Kapan akan disidang dan diproses? Anggap saja satu pernyataan menghina atau pelecehan divonis 2 tahun, maka Rizieq sangat layak mendapat akumulasi hukuman 10 tahun penjara.

Hal-hal seperti ini yang harus kita kawal sebagai bagian dari perlawanan. Mari laporkan Rizieq atas pernyataan-pernyataannya yang provokatif dan memecah belah NKRI. Soal ancaman membunuh Ahok di tempat umum, itu beluma ada yang melaporkan, mari laporkan. Sambil terus mengawal Firza dan Kak Ema dalam kasus pornografi yang juga diduga melibatkan Rizieq.

Saya paham bahwa ada anggapan Rizieq hanyalah macan ompong atau burung beo yang ikut apa kata majikan. Tapi harus disadari bahwa burung beo inilah yang ‘menghibur’ dan mengumpulkan banyak orang dengan menjual agama dan takbir. Dia ini harus dihukum seberat-beratnya.

Dan yang bisa memberikan perlawanan ini adalah kita, warga biasa. Polisi bertindak jika ada laporan dari warga. Sementara Pemerintah tidak mungkin melaporkan Rizieq, bisa diplintir macam-macam nantinya.

Sudah cukup kita memaafkan, sudah cukup kita acuh dan menganggap dia orang gila. Pemerintah sudah dengan tegas membubarkan HTI, kita sebagai warga juga harus melakukan perlawanan dengan menjerat tokoh-tokoh pemecah belah bangsa. Ada orang HTI yang masih menyebar ideologi propaganda? Rekam dan laporkan. Jangan diam. Jangan takut.

Ada politisi yang duduk sebagai pimpinan DPR tapi tak memiliki partai? laporkan. Mari minta kejelasan, sebenarnya DPR ini maunya apa? Ada ormas yang kerap memberikan ancaman atau intimidasi? Laporkan. Sudah saatnya kita melawan.

Harus ada orang yang terus mengawal Ahok untuk naik banding sampai kasasi, ada juga yang melaporkan para provokatornya. Saya kira inilah bentuk perlawanan yang harus kita lakukan ke depan.

Tidak ada gunanya menyudutkan pemerintah dan menggelar aksi penolakan. Ini bukan waktu yang tepat. Malah bisa dimanfaatkan untuk membuat opini bahwa masyarakat tidak percaya pemerintah. Laporkan saja Rizieq, Munarman dan yang sekelompok dengan titisan orde baru, jika mereka menggelar aksi, baru kita lawan dengan aksi. Dan di situlah kita bisa salurkan ekspresi dan aspirasi. Kalau mereka mau berjihad, kita juga bisa….Begitulah kura-kura.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Ahok Sudah Ditahan, Saatnya Kita Melawan "SHARE BUAT PENDUKUNG AHOK" Rating: 5 Reviewed By: Nonton cinta