728x90 AdSpace


Latest News
Kamis, 11 Mei 2017

Budha Tak Pernah ke Indonesia tapi Waisak dan Tempat Ibadahnya Terbesar di Dunia


BERITA TIONGHOA - Sejarah telah membuktikan bahwa kultur masyarakat Indonesia sangat religius dan menghargai bermacam agama. Bayangkan, Siddhartha Gautama yang lahir di Nepal lalu meninggal di India dan tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia justru mendapat penghargaan tertinggi di bumi nusantara. Meskipun saat ini jumlah penganut Budha hanya 0,84% dari jumlah penduduk Indonesia tetapi perayaan Waisak tetap meriah dan megah. Bahkan perayaannya mengundang decak kagum para wisatawan, baik dalam dan luar negeri. Maka tak heran ketika upacara keagamaan berlangsung di Borobudur, para turis berbondong-bondong ke sana untuk mengabadikan moment penuh keindahan, penghayatan, dan kedamaian itu.

Tak hanya upacara keagamaan, tempat ibadah dibuat sangat megah untuk memuliakan Sang Budha. Kurang lebih ada 10 candi Budha tersebar di Indonesia dan yang terbesar adalah Candi Borobudur. Ya, candi ini masuk rekor mengalahkan candi di Nepal ataupun India, tempat Budha mengabdikan hidupnya. Kemegahan dan keindahan Candi Borobudur juga pernah dikategorikan 7 keajaiban dunia. Arsitektur dan relief yang rumit membuat siapa saja kagum pada bangunan berundak tersebut. Keseluruhan ajaran Budha yang ditampilkan pada ukiran batu menunjukkan betapa pembuatnya sangat menghormati dan berusaha mengamalkan seluruh Dharma yang diajarkan oleh Sang Budha.



Borobudur dibangun pada tahun 770 M dan rampung tahun 825 M oleh Wangsa (keluarga) Syailendra, dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno). 25 tahun kemudian pada tahun 850 M dibangun candi Hindu, yaitu Candi Prambanan oleh Wangsa Sanjaya. Uniknya, jarak kedua candi tersebut tak terlalu jauh kurang lebih hanya 50 km. Ini menunjukkan bahwa pada masa kerajaan Mataram Kuno dua agama telah berkembang luas. Wangsa Syailendra yang menganut Budha dan wangsa Sanjaya menganut Hindu. Keduanya memerintah satu kerajaan, tapi lihatlah mereka tidak saling menghancurkan tempat ibadah milik lainnya. Masing-masing berusaha menghormati kepercayaan atau agama orang lain.

Mengenai penguasa kerajaan Mataram Kuno, ada teori dari Poerbatjaraka yang menyebut bahwa hanya ada satu dinasti saja yang berkuasa, yaitu Wangsa Syailendra yang beragama Hindu. Ketika Raja Rakai Panangkaran berkuasa, dinasti Syailendra terpecah menjadi dua, agama Budha dijadikan agama negara, sedangkan cabang Syailendra lainnya tetap menganut Hindu. Apapun teorinya, semua menunjukkan bahwa toleransi beragama telah bangun sejak dulu. Begitupula saat Islam masuk, tidak ada satupun catatan yang melarang perkembangan agama Islam di tanah air meskipun saat itu Nusantara dikuasai oleh Sriwijaya yang menganut agama Budha. Islam diterima dengan baik dan berkembang dengan pesat terbukti jumlah muslim Indonesia terbesar di dunia. Tak ada perang ataupun penaklukkan dalam penyebarannya seperti yang terjadi di India dan beberapa negara Arab lainnya.

Saat di sekolah kita diajari bahwa Islam masuk pada abad ke-13 karena adanya pedagang dari Gujarat. Menurut saya pendapat ini perlu dikritisi sebab pedagang Arab sudah masuk ke kota Barus pada abad ke-7 untuk melakukan perdagangan. Barus saat itu terkenal akan kapurnya yang menjadi komoditi paling penting masyarakat Arab untuk bahan pembuatan minyak wangi. Bukti lain yaitu terdapat nisan Syekh Rukunuddin tertulis wafat tahun 672 M, yang menguatkan adanya komunitas Islam di sana. Dari dua versi tersebut saya lebih condong pada pendapat kedua, yaitu Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Sementara itu Dewan Gereja juga menyebut Kristen masuk ke Indonesia tahun 645 M juga melalui kota Barus.

Dari uraian di atas kita bisa menarik kesimpulan bawa pada abad ke-7 atau saat dibangun Candi Borobudur, lima agama sudah ada di Indonesia, yaitu Hindu, Budha, Islam, Protestan dan Katolik. Alasan mengapa masjid tertua baru dibangun pada tahun 1288, saya rasa karena sebelumnya Indonesia dikuasai oleh kerajaan Hindu-Budha. Sedangkan kerajaan Samudra Pasai baru muncul pada tahun 1267 atau pada abad ke-13.



Keberadaan agama-agama tersebut tidaklah berdiri sendiri melainkan saling berakultutasi dan menghasilkan kebudayaan baru yang beragam. Sarung misalnya, yang awalnya dipakai oleh masyarakat Hindu di India kemudian berakulturasi dengan Islam di Indonesia. Sarung kemudian lebih banyak dipakai untuk sholat bahkan saat ini sarung lebih identik dengan keislaman dari pada Hindu. Saat penjajahan sarung dijadikan simbol perlawanan. Gerakan ini dipelopori oleh Kyai NU, Wahab Chasbullah. Di berbagai aktivitas baik kenegaraan maupun ibadah beliau menyerukan pemakaian sarung. Dalam penyebaran dakwah Islam pun begitu, menggunakan budaya Hindu-Budha yang lebih dulu mengakar di masyarakat. Dakwah Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan media wayang. Kisah Ramayana dalam cerita diberi ‘sentuhan Islam’ yaitu ajian Kalimosodo (kalimat sahadat) dan dimasukkan pula kisah dewa Ruci yang ceritanya mirip Nabi Khidir. Akulturasi budaya dan dakwah yang luwes inilah yang kemudian membuat Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia tapi disisi lain umat Hindu-Budha juga Kristen tetap bebas menjalankan kepercayaannya.

Sangat ironi jika baru-baru ini ada kelompok Islam garis keras seperti FPI, HTI, PKS dan sebagainya yang kemudian menolak dan menganggap sarung bukan bagian dari Islam. Mereka rupanya lebih bangga menggunakan gamis khas Arab atau baju silwar kameez khas Pakistan. Mereka juga menolak wayang bahkan tarian daerah seperti tari Gendhing Sriwijaya dan Jaipong yang dianggap tidak islami. Mereka berusaha menghilangkan semua kebudayaan yang berasal dari Hindu-Budha dan menginginkan budaya yang lahir dari tanah Arab karena dianggap semua yang berasal dari Arab adalah Islam.

Orang-orang yang sering dijuluki Arab KW ini tidak berkaca pada India, tempat agama Hindu dan Budha lahir, yang pada tahun 1945 terbelah menjadi dua negara: India dan Pakistan, lalu tahun 1971 terbelah lagi terpecah lagi menjadi Bangladesh. Pemisahan atau partisi terjadi hanya gara-gara masalah agama dan budaya. Hindu dan Muslim di India tidak pernah bercampur sedekat apapun mereka hidup. Muslim dan Hindu tidak saling menikah, ritual dan filosofi mereka teramat beda. Mereka juga tidak makan bersama: Muslim makan sapi, Hindu memuja sapi. Di Kereta api, penumpang Muslim minum ‘air Muslim’ dan penumpang Hindu minum ‘air Hindu’. Di negara lain seperti Myanmar, umat Budha bentrok dengan etnis Muslim Rohingnya, begitu juga di Thailand umat Islam di Pattani sering bentrok dengan pemerintah Thailand yang menganut agama resmi Budha.

Bentrokan karena agama seperti ini tidak perlu terjadi di Indonesia. Maka pemerintah yang memegang kendali seharusnya lebih tegas membasmi kelompok yang bersikap radikal. Tak hanya pemerintah, kita selaku masyarakat juga harus ikut andil menanggulangi radikalisme agama yang gencar terjadi dan bahkan sudah menjaring sekolah-sekolah.

Baru-baru ini ada lembaga non-profit bernama Sabang-Merauke yang memiliki program pertukaran pelajar. Kalau biasanya pertukaran pelajar antar negara, namun gerakan ini justru mengkampanyekan pertukaran pelajar antar daerah selama kurang lebih dua atau tiga minggu selama masa liburan. Siswa dari Jawa dikirim ke Sumatera atau daerah lain. Dari pertukaran pelajar ini diharapkan siswa mempelajari adat, budaya, dan agama di daerah tersebut untuk menanamkan toleransi dan cinta tanah air. Gerakan ini harus kita dorong dan apresiasi agar nantinya penerus bangsa tidak merasa superior terhadap agama dan budayanya sendiri.

Terakhir, Budha tidak pernah menginjakkan kaki ke Nusantara, Yesus juga tidak lahir di tanah kita, Nabi Muhammad pun tidak berdakwah sampai ke Indonesia, tapi ajaran mereka sampai pada hati kita. Semua agama mengajarkan kasih sayang. Tidak ada satupun yang menyuruh pada pertikaian dan permusuhan. Waisak kali ini harus menjadi moment bersatunya anak bangsa tanpa mengenal perbedaan agama. Mari kita jaga kebhinnekaan yang telah dipupuk sejak berbabad-abad lamanya. Bersatulah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.



Bantuan Anda, Berita Heboh, Berita International, Berita Terkini, Berita Unik, Cerita Cinta, Cerita Lucu, Cerita Mengharukan, Entertainment, Film Cinta, Film Lucu, Film Mengharukan, Handphone, Kesehatan, Kuliner, Orang Hilang, Penipuan, Sejarah, Slider, Sports, Tionghoa, Video, Zodiak
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Budha Tak Pernah ke Indonesia tapi Waisak dan Tempat Ibadahnya Terbesar di Dunia Rating: 5 Reviewed By: Nonton cinta