Ketika Harga Daging Menanduk “Bokong” Kemdag!


BERITA TERKINI - Pada Selasa 4 April 2017 lalu, Kemdag mengeluarkan sebuah kebijakan baru untuk menstabilkan harga pangan yang selalu bergejolak menjelang Ramadan. Nota kesepakatan atau MoU (Memorandum of Understanding) antara Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) dengan distributor gula, minyak goreng dan daging kerbau, kemudian ditandatangani di kantor Kementerian Perdagangan. Kebijakan tersebut mewajibkan pengusaha ritel modern untuk menurunkan tiga komoditas pangan yang sudah disepakati bersama, sesuai dengan harga acuan pemerintah.

Salah satu dari kebijakan tersebut adalah mengatur harga daging kerbau beku di tingkat eceran maksimal sebesar Rp 80.000/kg. Ketentuan tersebut berlaku efektif sejak hari Senin tanggal 10 April 2017 lalu. Sementara itu di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) harga daging meugang (punggahan) hari pertama menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H (Kamis, 25/5/2017) menyentuh Rp 200 ribu/kg, dengan harga terendah sebesar Rp 180 ribu/kg. Harga ini melambung bila dibandingkan dengan harga daging tahun lalu yang mencapai Rp 170 ribu/kg.

Harga daging di Kabupaten Aceh Barat Daya ini jelas-jelas telah mengangkangi harga Kemdag yang cuma sebesar Rp 80.000/kg. Apakah kemudian warga Abdya akan melakukan protes kepada Menteri Perdagangan terkait harga daging sebesar Rp 200 ribu/kg tersebut? Tentu saja tidak! Mengapa? Jawabnya tentu saja karena Mendag bukan warga Abdya! Pada saat meugang atau hari raya, warga hanya mengkonsumsi daging sapi segar yang baru saja dipotong, berapun harganya! Pada momen tersebut warga tidak akan sudi mengkonsumsi daging kerbau beku sekalipun harganya diturunkan menjadi Rp 50.000/kg!

Prinsip “perdagingan” ini bukan hanya berlaku di wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya saja, melainkan di seluruh bumi nusantara ini, selama mereka masih “menghargai” nilai sprituil punggahan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha!

Pada tahun lalu lewat sebuah artikel, penulis juga mempertanyakan kebijakan pemerintah untuk menetapkan harga daging sebesar Rp 80.000/kg, melalui impor frozen meat (daging beku) Kalau tujuannya untuk kepentingan industri makanan daging olahan, kebijakan ini bisa dipahami. Akan tetapi harga tersebut masih terlalu mahal bila dibandingkan harga daging beku di negeri asal! Kalau tujuannya untuk kepentingan masyarakat umum, kebijakan tersebut sungguh tidak tepat, dan itulah yang terjadi.

Menjelang Ramadhan tahun lalu, pemerintah menjual daging beku sapi dengan harga Rp 80 ribu/kg lewat operasi pasar, dan tidak laku. Sekali lagi tidak laku!! Mengapa? Karena “Kemdag tidak mengenal filosofi perut warganya!!” Di negeri ini konsumsi daging sapi dikenal dengan pola konsumsi daging segar (fresh meat) yang rasa dagingnya masih bisa dinikmati. Tak banyak warga yang bisa menikmati daging beku impor yang alot dan berair itu. Jangan juga bermimpi kalau daging beku impor itu sekelas dengan daging top class seperti Sirloin atau Tenderloin untuk keperluan steak restoran kelas atas, yang juga memang sama-sama diimpor.

Kalau pemerintah memang berniat untuk menekan harga daging, caranya bukan lewat skema impor daging beku, melainkan lewat skema biasa, yaitu impor sapi hidup dari Australia atau Selandia Baru atau negara yang bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) lainnya. Berdasarkan data Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) beberapa tahun terakhir ini, hanya 20% konsumen yang menyerap daging beku impor. Sedangkan 80% tetap memilih daging segar di pasar tradisional. Masyarakat hanya sesekali membeli daging sapi, itupun paling setengah kilogram saja. Jadi meskipun harganya lebih mahal, mereka tetap membeli daging sapi segar.

Ketika terjadi kenaikan harga daging sekitar 18% dibanding harga tahun lalu, itu hanya mempunyai satu makna, populasi sapi kita tahun ini telah berkurang 18% dikurangi persantase kenaikan jumlah penduduk baru penyantap daging. Kalau laju pertumbuhan penduduk RI 3%/tahun, maka populasi ternak sapi kita telah berkurang 15% tahun ini! Berapakah populasi ternak sapi kita sekarang ini? Tidak ada yang tahu pasti!



Sebenarnya akar masalah utama dalam peternakan sapi adalah terbatasnya pasokan bibit dan bakalan sapi lokal, sehingga perusahaan feedloter (penggemukan sapi) mengalami kesulitan untuk menyediakan sapi siap potong ke RPH (Rumah Potong Hewan) yang pada akhirnya berdampak pada mahalnya harga daging sapi. Mengapa kita kekurangan bibit dan bakalan sapi lokal?

Dalam kondisi normal, hanya sapi jantan siap potong yang dijual. Namun karena “dikondisikan permintaan tinggi” maka sapi yang ukuran agak kecil dan sapi betina produktif pun dijual!  Biasanya harganya akan lebih murah dari sapi jantan. Tapi tak mengapa karena kini harganya melambung. Di beberapa daerah sentra penghasil susu seperti di Boyolali, Malang dan Cisarua Bogor ada beberapa peternak memotong sapi perahnya untuk mendapatkan keuntungan sesaat, karena harga daging lagi bagus-bagusnya.

Inilah penyebab utama populasi sapi lokal berkurang, lantaran sapi betina produktif banyak dipotong. Demikian juga produksi susu lokal akan berkurang karena indukannya dipotong. Sapi betina produktif menghasilkan susu dan anakan. Apapun itu, sapi betina produktif tidak boleh dikorbankan untuk pasokan daging ke pasar. Akan semakin besar nanti ketergantungan impor kita akan daging dan susu sapi dalam jangka panjang

Jumlah sapi lokal memang seperti “tuyul” dan sering diperdebatkan. Data di Kementerian Pertanian berbeda dengan hasil sensus peternakan BPS. Demkian juga data dari asosiasi, jumlahnya berbeda juga. Siapapun yang menerbitkan data tidak akan pernah akurat karena banyak kepentingan yang terlibat. Data sapi ini tidak ubahnya seperti hasil polling dari lembaga-lembaga survey pada Pilkada DKI kemarin yang sarat dengan makna tersirat melebihi yang tersurat!  Tetapi satu hal yang pasti, sudah terlalu banyak sapi betina produktif kita yang berkurang, mungkin jumlahnya tidak sampai setengah dari data sapi yang tercatat itu….

Demikian juga data konsumsi daging sapi perkapita per tahun juga beragam, tergantung kondisi dan masing-masing pihak untuk kepentingan penerbit angka konsumsi. Indikasi penurunan populasi sapi lokal dari tahun ketahun sangat jelas kelihatan. Jumlah sapi lokal yang dipotong di Rumah Potong Hewan setiap tahun selalu semakin menurun. Kini mayoritas sapi yang dipotong di RPH diisi oleh sapi impor dari Australia.

Keberadaan daging sapi ini tentulah bukan tanggung jawab Kemdag saja. Tugas Kemdag adalah mengimpor daging beku atau sapi hidup berdasarkan rekomendasi dari Kementan. Jadi Kemdag hanya sebagai perpanjangan tangan dari Kementan saja. Tanggung jawab persapian ini sepenuhnya adalah tanggung jawab Kementan!

Lalu, berapakah harga daging yang wajar? Harga Pasar adalah harga yang terbentuk oleh sinkronisasi antara permintaan dan penawaran yang bisa mengakomodir kepentingan peternak, pedagang dan konsumen. Harga daging sapi sudah lama bertahan diatas Rp 100.000/kg, dan itu adalah harga keekonomian! Harga pembelian daging sapi hidup dari peternak kini sudah berkisar Rp 45.000/kg. Ditambah biaya transpor dan keuntungan, harga tersebut memang sudah pas.

Berdasarkan data hasil Sensus Pertanian Tahun 2013 (ST2013) populasi sapi potong berkisar 12-12,5 juta ekor. Sementara berdasarkan hasil sensus sapi potong oleh Badan Pusat Statistik pada Juni 2011 sebelumnya adalah sebesar 14,8 juta ekor. Artinya ada penurunan yang tajam dari jumlah sapi potong setiap tahunnya. Menjelang lebaran 2013 tersebut, harga daging berkisar Rp 85.000 – Rp 100.000 sekilonya.

Akan tetapi, ketika harga daging sapi sudah menyentuh Rp 200 ribu/kg, itu jelas menunjukkan bahwa populasi sapi kita ternyata sudah di tingkat yang sangat mengkhawatirkan! Dengan harga daging di konsumen mencapai Rp 130 ribu/kg saja, maka sapi yang ukuran agak kecil maupun sapi betina produktif pasti akan segera dipotong!  Kalau hal ini dibiarkan terus, maka dalam sepuluh tahun kedepan, kita tidak akan memiliki sapi lokal lagi untuk dipotong maupun susu segar untuk diminum…



Bantuan Anda, Berita Heboh, Berita International, Berita Terkini, Berita Unik, Cerita Cinta, Cerita Lucu, Cerita Mengharukan, Entertainment, Film Cinta, Film Lucu, Film Mengharukan, Handphone, Kesehatan, Kuliner, Orang Hilang, Penipuan, Sejarah, Slider, Sports, Tionghoa, Video, Zodiak
Labels: Berita Terkini, Slider

Thanks for reading Ketika Harga Daging Menanduk “Bokong” Kemdag!. Please share...!

Sports

S

Sejarah

Kesehatan

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms
Back To Top