728x90 AdSpace


Latest News
Rabu, 10 Mei 2017

Korea Utara dan Amerika. Akankah terjadi perang? Bersiaplah Asia


Berita International -  Siapa yang tidak pernah mendengar berita Internasional terkait penolakan Dewan Keamanan PBB terhadap pengembangan senjata nuklir Korea Utara? Tentunya berita itu sudah menjadi bacaan sehari-hari dan diperkirakan terus menjadi percakapan di meja makan dan kedai kopi dalam beberapa minggu ke depan. Dalam percakapan, ada berpendapat Korea Utara sedang bersiap diri menghadapi kekuatan negara-negara lain dan perang akan terjadi dalam waktu dekat, ada pula berpendapat ketegangan tersebut hanya bagian dari show force and marketing business antara Korea Utara dan Amerika tanpa agenda perang.

Sebagaimana kita ketahui Korea Utara sejak berada di bawah pemerintahan Kim Jong Un menjadi negara yang terkesan agresif dan tidak terduga. Dikatakan agresif karena meskipun mendapat kecaman dari negara-negara anggota PBB, khususnya Amerika, Kim Jong Un seakan tidak menggubrisnya, bahkan ia terus menerus menunjukkan kegagahan militernya melalui uji coba nuklir dan rudal balistik beberapa waktu lalu. Kehadiran Amerika di semenanjung Korea yang diprediksi dapat membuat Kim berputar haluan dan tidak lagi memikirkan tentang pengembangan senjata nuklir ternyata meleset. Shock therapy itu tidak berlaku baginya bahkan ia melawan secara terang-terangan melalui demonstrasi peluncuran rudal balistik beberapa waktu lalu. Ini diluar prediksi. Reaksi tersebut akhirnya menarik perhatian dunia untuk meliput langkah-langkah selanjutnya.

Di tempat berbeda, Amerika dibawah pemerintahan Donald Trump menjadi negara yang terkesan responsif dan oportunis. Ia cukup terbilang responsif dalam membuat kebijakan, salah satunya pelarangan warga dari tujuh negara mayoritas muslim masuk ke Amerika Serikat. Hal itu berkaitan adanya aksi-aksi terorisme di beberapa negara Eropa sebelumnya. Di saat Korea Utara melakukan uji coba nuklir dan rudal balistiknya, Trump merespon melalui pergerakan militernya ke wilayah Semenajung Korea. Quick response ini pula turut menarik media massa meliput sepak terjang Trump selanjutnya. Di sisi berbeda, secara bisnis situasi ketegangan itu mendatangkan keuntungan bagi Trump karena negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang berencana memasang alat pendeteksi rudal milik AS guna mengantisipasi serangan rudal Korea Utara. Apakah pemasangan itu gratis? It’s just a business.

Bila melihat sifat kedua pemimpin tersebut, akankah terjadi perang antara kedua negara tersebut? Belum diketahui secara pasti bahwa perang akan terjadi dalam waktu dekat. Namun jelas ada perbedaan mendasar anatara kedua negara tersebut dalam pengambilan keputusan. Tentunya bagi Amerika deklarasi perang terhadap Korea Utara perlu mendapat persetujuan dari Kongres terlebih dahulu dan itu membutuhkan waktu. Tanpa persetujuan tersebut, Trump tidak dapat mengambil langkah lebih jauh lagi. Berbanding terbalik dengan Kim, dalam posisinya sebagai pemimpin Korea Utara ia hanya perlu persetujuan dari dirinya sendiri dan perang dapat dilakukan kapan saja dia inginkan.



Hal menarik dalam sela-sela ketegangan ini, ada yang meramalkan terjadi perang Korea Utara dan Amerika akan berlangsung dalam waktu yang tidak lama lagi, sekitar Mei hingga Oktober 2017. Tentu ini bukan opini populer untuk diterima akal sehat bila dikaitkan dengan pengalaman spiritual seseorang. Namun, bila ramalan itu sejalan dengan prediksi berdasarkan kajian politis terkini yang mengindikasikan potensi terjadi perang maka itu patut diterima oleh nalar.

Sesungguhnya ketegangan ini tidak akan berpotensi perang bila kedua pemimpin menganggap bahwa situasi ini hanya semata-mata bentuk dari legitimasi dan bisnis. Peluncuran rudal balistik dan uji coba nuklir menunjukkan keinginan Kim Jong Un menujukkan kemampuannya melawan kecaman negara-negara terhadap kebijakan pengembangan senjata nuklir di negaranya. Di lain pihak, respon Trump terhadap keinginan Korea Selatan dan Jepang memasang alat pendeteksi rudal di negara mereka mengesankan Trump sedang memanfaatkan situasi guna melancarkan bisnisnya di wilayah Asia melalui penjualan alat pendeteksi rudal. Bila hal-hal tersebut menjadi perhatian masing-masing pemimpin tersebut, maka tidak ada yang perlu dikuatirkan karena ketegangan tersebut ibarat sandiwara sepasang kekasih yang cemburu karena kurang perhatian.

Namun demikian, selalu ada kemungkinan lain yang dapat membawa Asia kembali berada pada jaman batu, di mana langit menjadi tempat berteduh dan tanah tempat membaringkan badan.

Kim Jong Un, seorang pemimpin muda dianggap belum mempunyai pengalaman memimpin negara akan merasa tertantang untuk membuktikan kemampuannya melawan arus politik dunia melalui perlawanannya terhadap Amerika sebagai barometer politik dunia. Kemampuannya dalam memimpin Korea Utara akan terbukti dalam situasi ini, apakah ia akan mengorbankan negaranya demi suatu legitimasi atau menerima superioritas negara lain dengan menerima Trump di beranda istananya?

Donald Trump, seorang pemimpin dan pebisnis handal diragukan mampu memimpin Amerika lebih maju dari sebelumnya akan termotivasi memperlihatkan pengaruhnya terhadap negara-negara lain demi peningkatan ekonomi negaranya. Kemampuannya dalam berbisnis akan nampak pada kemampuannya menjual peralatan perang milik AS ke negara-negara sekitar Korea. Bila terdengar kabar bahwa Korea Selatan dan Jepang berencana akan menggunakan alat pendeteksi rudal milik AS, maka hampir dipastikan bahwa pemasangan alat tersebut setidaknya dilakukan tidak secara gratis.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Korea Utara dan Amerika. Akankah terjadi perang? Bersiaplah Asia Rating: 5 Reviewed By: Nonton cinta