Mana yang Lebih Murni, Aksi Bela islam atau 1000 Lilin untuk Ahok?


BERITA TERKINI -  Jum’at malam bersama suami, saya mengikuti acara 1000 lilin untuk Ahok di Tugu Pahlawan, Surabaya. Awalnya kami mengira tak banyak massa yang hadir di acara tersebut. Di tengah perjalanan usai sholat isha, kami menemukan beberapa orang mulai berjalan pulang. Memang acaranya dimulai pukul 18.30 dan ketakutan kalau acara sudah berakhir mulai menghantui. Kami sedikit saling menyalahkan karena keterlambatan dan tidak on time. Beberapa jalan ditutup yang membuat kami memutar balik agar sampai ke Tugu Pahlawan.

Sampai di area parkiran, terlihat banyak massa mengenakan kaos berwarna merah atau putih yang menjadi dresscode malam itu. Agaknya penyesalan karena terlambat mulai terobati melihat antusias warga yang juga mulai berdatangan memadati area sekitar Tugu Pahlawan. Dengan membawa lilin menyala yang disusupkan di atas gelas plastik yang digunting separuh, massa mulai berbaris menyusuri jalan menuju Tugu.

Ada satu, dua orang mulai menaikkan drone saat kami datang. Meskipun massa terlihat begitu padat, namun tak banyak pedagang yang terlihat di sekitar lokasi. Kami menyadari kalau acara ini memang murni kesadaran pribadi masing-masing. Tak ada yang mengakomodasi massa apalagi menyediakan transportasi dan makanan gratis. Jauh berbeda dengan aksi bela islam yang katanya banyak yang nyumbang???

Semakin malam, massa yang berdatangan makin membludak, kemacetan di sekitar balai kota yang dekat dengan Tugu tidak bisa dihindarkan. Kami berharap bisa mengikuti massa sampai ke lokasi meski harus berdesak-desakkan. Ada satu, dua orang yang hampir jatuh pingsan karena tak kuat berjalan. Hal penting yang membuat semangat kami selalu utuh di tengah padatnya massa adalah nyanyian lagu-lagu kebangsaan yang selalu dilantunkan sepanjang jalan. Mulai dari lagu Indonesia Raya, Garuda Pancasila dan sebagainya. Dengan lagu tersebut massa yang terdiri dari berbagai etnis dan agama merasakan bangkitnya lagi semangat persatuan dan patriotisme. Tak ada kata lelah bagi kami untuk menghabiskan malam bersama dengan mereka semua.



Mari kita bandingkan dengan aksi bela islam yang katanya murni membela agama tapi orasi yang diteriakkan adalah “gantung Ahok”, “turunkan Jokowi”, “siap revolusi!”, “kembali ke 98!”, “tegakkan khilafah” dan banyak kata-kata tak patut lainnya. Saya begitu heran dengan sikap ulama-ulama mereka yang dengan mudahnya mencampurkan ucapan takbir disertai ucapan kotor seperti bunuh, gantung, bakar dan sebaginya.

Apapun alasannya, dalam islam tidak diperkenankan mencaci apalagi melaknati sesama manusia, bahkan nabi memilih memaafkan orang yang menyakitinya dibanding mendo’akan keburukan bagi orang lain. Apakah sekelas Rizieq, Amin Rais dan Novel cs menilai dirinya memiliki tingkat yang melebihi kenabian? Wallahu’alam, biarkan pengadilan akhirat yang akan menentukan itu semua. Apakah mereka murni membela agama Allah atau membela kepentingan untuk berkuasa dan mengganti pemerintahan yang sah.

Dan kini setelah melihat aksi bela Ahok hampir mengalahkan aksi bela agama yang mereka klaim murni bela agama. Para politisi dan pengikut mereka mulai ketar-ketir dengan mencoba meredam aksi-aksi tersebut. Mulai dari seruan sok bijak agar pendukung Ahok dapat menerima kekalahan dan hukuman terhadapnya sampai berita kotor yang menyebut “umat islam membersihkan sampah bekas lilin”. Apa mereka tidak bisa berhenti mengkotak-kotakkan masyarakat dengan menyebut umat agama ini dan itu? Apa mereka tidak sadar diri kalau kebanyakan peserta 1000 lilin untuk Ahok juga diikuti oleh umat islam atau muslim?

Memang dari awal kaum sebelah yang sukses mengkotak-kotakkan atau memecah masyarakat. Tuduhan kafir bagi yang tak seiman dan munafik untuk seiman tapi beda paham selalu mereka hembuskan siang dan malam. Kalau Ahok mereka sebut kafir, maka sebelumnya mereka juga menyebut Jokowi sebagai PKI dan sekarang Ridwan Kamil sebagai shiah laknatullah. Tetapi anehnya mereka malah menduduh Ahok sebagai sumber perpecahan. Mereka tidak pernah berkaca kalau diri mereka sendiri yang menimbulkan perpecahan.

Dan balasan dari orang-orang yang mereka tuduh kafir, shiah, munafik, pengikut dajjal adalah menjuluki sebagai kaum sapi, cingkrang, daster, sumbu pendek, bumi datar dan sebagainya. Julukan tersebut jauh lebih baik dibanding tuduhan murtad, munafik, kafir dan sebagainya karena itu sudah menyerempet pada keyakinan dan keimanan individu. Saya bertanya-tanya di mana Komnas HAM dengan adanya hal semacam ini?

Ketika melihat aksi bela islam mereka yang terpusat di Jakarta dikalahkan oleh aksi 1000 lilin untuk Ahok yang mendunia, tentunya akan membuat mereka malu yang menyebut aksinya murni dari hati. Kalau secara jumlah saya yakin silent majority yang selama ini mempercayai hukum kepada pemerintah akan mengalahkan jumlah aksi yang katanya bela agama dari mereka. Kalau mereka bisa menyerukan untuk menerima hukuman atas Ahok, kenapa sebelumnya mereka tak bisa menyerukan untuk menerima maaf dari Ahok? Dan akhirnya suatu saat mereka semua yang memperdagangkan agama untuk kepentingannya akan kembali mempertanggungjawabkan perbuatnnya di depan Yang Maha Kuasa.


Labels: Berita Terkini, Slider

Thanks for reading Mana yang Lebih Murni, Aksi Bela islam atau 1000 Lilin untuk Ahok?. Please share...!

Sports

S

Sejarah

Kesehatan

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms
Back To Top