SEBARKAN !!!! Kalau Dukungan untuk Ahok Mengalir di Seluruh Penjuru Bumi, Pembenci Ahok Ketar Ketir.


BERITA TERKINI -  Jujur saya secara pribadi merasa ada nilai positip yang dapat dipetik dari vonis yang dijatuhkan Hakim terhadap Ahok.

Mengapa saya katakan nilai positip karena kasus Ahok ini telah membuka mata rakyat Indonesia maupun dunia Internasional ada seorang manusia jujur,  berintegritas, tegas, dan pekerja keras di penjarakan oleh karena ucapan-ucapan yang sampai saat ini belum dapat dipastikan secara sah dan menyakinkan adalah sebuah tindak pidana.



Saya memprediksi perjalanan proses hukum masih panjang jika memakai teori kemungkinan bisa saja tahapan selanjutnya seperti banding dan kasasi akan memakan waktu sama dengan vonis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yakni 2 tahun.

Itu prediksi orang awam loh sahabat Seword sama halnya dengan pertandingan bola kita bisa memprediksi tapi hasil akhir tetap ditentukan di lapangan dalam kasus Ahok hasil akhirnya di pengadilan.

Masyarakat yang awalnya diam saat ini semakin berani menunjukkan kecintaannya terhadap mantan gubernur DKI. Jakarta ini. Tak tanggung-tanggung Ahok pemimpin yang dikatakan kaum sumbu pendek bumi datar ini adalah pemimpin kafir yang layak disingkirkan.

Dimasa aktif mengabdi jadi pelayan masyarakat telah menerima penghargaan atas berbagai macam prestasi.

Penghargaan tersebut salah satunya didapat dari BAPPENAS. Keempat penghargaan yang diterima yakni :

1. kategori Provinsi dengan Perencanaan Terbaik,

2. Provinsi dengan Perencanaan Inovatif, Provinsi dengan Perencanaan Progresif,

3. Milenium Development Goals (MDGs) 2016, dan

4. Terbaik I kategori tingkat pencapaian MDGs tertinggi tahun 2015.

Sumber : www.kompas.com

Penghargaan ini bukan dicapai dengan gampang perlu keseriusan dan jiwa kepemimpinan yang mengutamakan rakyat umum.

Penghargaan dan hasil kerja nyata yang dirasakan masyarakat menghasilkan semakin tinggi dorongan, dukungan dan semangat melakukan pagelaran 1000 lilin untuk Ahok.

Mengapa saya katakan pagelaran 1000 lilin jika disebut aksi 1000 lilin pasti akan menyalahi peraturan yang ada di negeri ini. Sebab Undang- Undang telah mengatur aksi harus diakhiri sampai pukul 18.00 jika tidak akan dibubarkan oleh aparat kepolisian.

Kegiatan ini sudah jelas memakai lilin tidak elok dan logis membuat kegiatannya di siang hari yang terik dan cerah. Kegiatan ini idealnya dilakukan pada malam hari.

Mari kita tegaskan bahwa kegiatan ini bukan aksi ataupun demonstrasi tetapi ini adalah pagelaran 1000 lilin sebagai tanda keadilan tengah berada di kegelapan sehingga harus diberi cahaya kebenaran.

Pagelaran biasanya tidak terbatas waktu yang penting memiliki izin, terkonsep secara matang dan tidak menimbulkan permasalahan.

Pagelaran 1000 lilin untuk keadilan ini tidak hanya diadakan di DKI. Jakarta tetapi mengalir deras di berbagai daerah lain mulai Sumatera Utara sampai Merauke.

Daerah yang mengadakannya antara lain Medan, Gunung Sitoli, Pematangsiantar, Pekanbaru, Batam, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Sorong, Kupang , Merauke, dll

Jika disebutkan satu persatu bisa patah jari-jari saya mengetikkannya.

Hahaha.

Sahabat Seword sedunia yang mau kita analisis bukan hanya sekedar kuantitas saja tetapi kualitas yang paling utama.

Secara kualitas pagelaran ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia sudah cerdas dapat menilai bahwa kasus Ahok ini sudah jauh dari dasar keadilan.

Sehingga tidak hanya masyarakat umum saja malah tokoh politik, tokoh masyarakat dan pakar hukum menyatakan bahwa kasus ini tidak berjalan sesuai koridor hukum karena sangat sarat akan muatan politik dan Intervensi massa yang anti Ahok.

Salah satu praktisi hukum yang menyatakan kasus ini tidak berjalan dengan semestinya adalah Todung Mulya Lubis yang merupakan lulusan Universitas terbaik di dunia yakni Universitas Harvard di Amerika Serikat.

Seperti saya kutip dari berita di www.tribunnews.com sebagai berikut :

• “Saya katakan overkill krn sesungguhnya jaksa tak menuntut Ahok untuk penistaan agama. Majelis Hakim yg menyeret Ahok menjadi penista agama.”



• “Normalnya majelis Hakim mendasarkan vonnisnya pada requisitor jaksa. Adalah sangat tidak biasa Majelis Hakim memeriksa dan mengadili sendiri,” cuit akun @TodungLubis.

Menurut akun @TodungLubis, digunakannya pasal penistaan agama oleh Majelis Hakim adalah inisiatif Majelis Hakim untuk menjustifikasi terjadinya penistaan agama.

Seorang praktisi hukum yang lulusan Universitas terbaik dan telah malang melintang dalam dunia hukum saja menyatakan bahwa proses hukum tersebut ada kejanggalan apalagi masyarakat secara umum dengan dasar penilaiannya adalah kinerja maksimal dan prestasi yang telah diukir oleh Ahok semasa mengabdi untuk rakyat maka apa yang dikatakan oleh Ahok bukan sebuah tindakan pidana.

Dukungan dari masyarakat tidak hanya di Indonesia saja tetapi sudah menarik pandangan tokoh dan lembaga Internasional, antara lain :

 Dukungan Uni Eropa

Uni Eropa senantiasa memuji kepemimpinan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, sebagai demokrasi yang kuat dan negara yang bangga atas tradisi toleransi dan pluralisme yang dimilikinya. Kami mengimbau agar pemerintah Indonesia, lembaga-lembaga dan warganya untuk senantiasa mempertahankan tradisi toleransi dan pluralisme yang ada selama ini,” demikian pernyataan Uni Eropa secara resmi diterima Merdeka.com

 Dukungan Majelis Rakyat Belanda

“Koenders harus bisa mendesak Indonesia melihat kembali hukum mereka. Dia juga harus mengungkapkan kekhawatiran ini pada Uni Eropa di Brussels,” tutur para anggota Majelis Rakyat Belanda seperti dilansir dari Telegraph.

 Dukungan Moazzam Malik Duta Besar Inggris untuk Indonesia

Saya kenal @basuki_btp. Mengagumi kerjanya untuk Jakarta. Percaya dia tidak anti-Islam. Doa saya untuk Bu Vero dan keluarga. Para pemimpin harus menjaga toleransi dan kerukunan,” cuit Moazzam di akun media sosial Twitternya.

 Dukungan Direktur Amnesty Internasional Untuk Asia Tenggara dan Pasifik

“Vonis itu membuktikan tidak adilnya pasal penodaan agama di Indonesia dan pasal itu harus segera dicabut,” kata Direktur Amnesty International untuk Asia Tenggara dan Pasifik Champa Patel dalam rilis yang diterima merdeka.com.

 Dewan Ham PBB untuk Asia

“Kami prihatin atas hukuman penjara yang dijatuhkan kepada Gubernur Jakarta atas dugaan penistaan melawan Islam. Kami meminta Indonesia untuk meninjau kembali hukum penistaan tersebut,” tutur Dewan HAM PBB di akun resmi mereka @OHCHRAsia.

Tidak hanya tokoh ataupun lembaga internasional yang melakukan protes dan memberikan dukungan terhadap Ahok tetapi masyarakat umum Internasional ikut memberi dukungan terhadap kasus yang menimpa Ahok ini.

Beberapa kota di berbagai negara akan menjadi saksi bisu bahwa Ahok dicintai dan dikagumi di seantero bumi, Kota-kota tersebut berada di 4 benua, antara lain :

Benua Amerika

1. Washinton DC, USA dan San Fransisco, USA

2. Vancouver, Kanada dan Toronto, Kanada

Benua Eropa

1. Amsterdam, Groningen, Den Haag, dan  Utrecht, di Negara Belanda

Benua Australia

1. Sydney, Australia

2. Canberra, Australia

3. Perth, Australia

4. Melbourne, Australia

5. Adelaide, Australia

Benua Asia

6. Dili, Timor Leste

7. Seoul, Korsel

8. Taiwan

Sumber : www.liputan6.com

Mengagumkan dan sangat fenomenal dukungan untuk Ahok berdatangan dari seluru penjuru bumi membuktikan bahwa manusia rasional dan cerdas masih lebih banyak jumlahnya dan penyebarannya merata daripada manusia kaum sumbu pendek bumi datar yang mungkin hanya ada di beberapa negara saja.

Apa yang dijelaskan dalam tulisan ini belum hasil akhir. Saya yakin dan percaya gerakan ini akan semakin bergelora dan massif keseluruh Benua dan Negara yang ada di bumi bulat ini.

Sekarang saya sampaikan sudah habis masa euforia dari kalian wahai pembenci Ahok. Liatlah pencinta toleransi dan keadilan akan bersuara di seluru penjuru bumi.

Begitu Kura-Kura.

Jangan lupa baca tulisan saya yang lainnya


Labels: Berita Terkini, Slider

Thanks for reading SEBARKAN !!!! Kalau Dukungan untuk Ahok Mengalir di Seluruh Penjuru Bumi, Pembenci Ahok Ketar Ketir.. Please share...!

Sports

S

Sejarah

Kesehatan

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms
Back To Top