728x90 AdSpace


Latest News
Senin, 24 Juli 2017

Banyak Hambatan Regulasi, Uber Bisa Saja Berakhir Tragis seperti Yahoo


BERITA GOOGLESiapa tidak kenal Yahoo? Perusahaan ini merupakan pionir di industri internet dunia, namun berakhir jadi anak usaha Verizon Communication.

Beberapa waktu lalu, Yahoo diakuisisi oleh perusahaan telko terkemuka di Amerika Serikat tersebut senilai 4,5 miliar dolar AS (atau sekitar Rp 63 triliun).

Nama Yahoo pun hilang dan berganti dengan nama Altaba, yang saat ini masih menyisakan sejumlah saham di Yahoo Japan dan di Alibaba.

Yahoo, perusahaan yang terakhir dikomandani oleh eksekutif cantik Marissa Mayer tersebut, pada 1999 pernah memiliki valuasi nilai 100 miiar dollar AS. Menyedihkan jika harganya saat ini hanya 4,5 miliar dolar saja.

Pola yang sama bisa terulang pada Uber, pionir industri transportasi online. Perusahaan ini masih menghadapi segunung permasalahan hukum, hambatan regulasi, hingga budaya kerja.

Terakhir, pendiri dan CEO Uber, Travis Kalanick hengkang dari perusahaan yang didirikannya tersebut dan meninggalkan jurang lebar dalam manajemen Uber.

Pengembangan aplikasi Uber sendiri saat ini terbelah antara terus mengembangkan layanan transportasi online, atau mengembangkan bisnis transportasi kendaraan pintar tanpa sopir. 

Uber tertarik mengembangkan transportasi kendaraan pintar tanpa sopir, sebab saat ini sebagian besar dana Uber tersedot untuk biaya para driver, termasuk asuransinya.

Kemudian, Uber telah menyerah di beberapa negara yang sejatinya merupakan pangsa pasar empuk, misalnya saja di China.

Uber akhirnya menyerahkan bisnisnya ke Didi Chuxing, layanan transportasi online sejenis di China, pada tahun lalu. Sebagai gantinya, Uber memiliki saham di Didi sekitar 18 persen. Nilai sahamnya diperkirakan sekitar 8 miliar dolar AS saat ini.

Tak lama berselang di tahun ini, Didi mendapatkan suntikan dana hingga 5,5 miliar dolar AS dan membuat perusahaan tersebut mempunyai valuasi 50 miliar dolar AS. Tentu saja dengan valuasi nilai sebesar itu, bisa saja Didi mencaplok Uber di kemudian hari. 

Awal bulan Juli ini, hal yang sama dilakukan Uber di Rusia. Uber mengibarkan bendera putih dengan menyerahkan bisnisnya ke rivalnya, Yandex, yang diganti dengan 37 persen saham di layanan kombinasi baru.

Nilai saham Uber di Yandex diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS, namun jika saham Uber dan Yandex digabung, nilainya mencapai 10 miliar dolar AS. Artinya, Yandex juga berpotensi mencaplok Uber di kemudian hari. 

Di sisi lain, bisnis Uber terus melemah. Sehingga valuasinya juga menurun. Di pasar sekunder, valuasi nilai Uber turun ke 50 miliar dolar AS per Juni, menurut TechCrunch. Akan tidak mengejutkan jika valuasi resmi sebesar 68 miliar dolar AS akan terus jatuh, seiring hengkangnya Kalanick.

Ancaman lain datang dari pasar AS. Rival Uber di AS adalah Lyft. Perusahaan Lyft ini baru saja mencapai valuasi 7,5 miliar dolar AS. Di As, Uber memang belum khawatir dengan i sebab saat ini bisnis Uber di Amerika Serikat dua kali lipat dari Lyft.

Namun jika kita berandai-andai, saham Uber di China dan Rusia naik jadi 50 persen. Kemudian, abaikan juga usaha dan upaya Uber di negara lain.

Namun walaupun sudah begitu, diestimasi nilai Uber hanya akan mencapai 30 miliar dolar AS, atau separuh dari valuasi nilai saat ini.

Jika pelemahan ini terus berlanjut, berikut dengan segala masalah hukum dan regulasi serta kekalahan bisnis Uber di berbagai negara, tidak heran jika nama Uber juga akan lenyap seperti halnya Yahoo.



BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Internasional, Olahraga Hingga Gosip Artis


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Banyak Hambatan Regulasi, Uber Bisa Saja Berakhir Tragis seperti Yahoo Rating: 5 Reviewed By: BG