728x90 AdSpace


Latest News
Minggu, 09 Juli 2017

Mengejutkan, Tito Mendadak Mau Pensiun Dini, Terkait Kriminalisasi Ulama dan Novel?


BERITA GOOGLEKapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian melontarkan pernyataan mengejutkan dalam wawancara eksklusif oleh Budiman Tanuredjo dalam acara "Satu Meja" di Kompas TV, yang tayang, Sabtu (8/7/2017).

Secara blak-blakan Tito menyatakan ingin pensiun dini dari kepolisian.

Menurutnya kepolisian perlu pimpinan-pimpinan dan penyegaran-penyegaran baru.

"Kalau boleh saya ingin pensiun dini ya," ujar Tito.

Tito mengaku keinginannya untuk pensiun dini dipengaruhi karena dirinya lama di luar negeri.

"Kalau di kultur Indonesia, pensiun dini diketawain. Di luar negeri, orang ingin pensiun secepatnya," ujarnya.

"Setelah dia bekerja keras, mengabdi dan seterusnya, maka dia mengurangi tensi kerja kerasnya dengan bekerja lebih relax. Agar dia juga bisa menikmati suasana kerja yang lebih less stress full," lanjut dia.

Selain itu, Tito pun mengaku pensiun bukan berarti berhenti mengabdi kepada masyarakat.

Baginya, pengabdian kepada masyarakat bisa dilakukan di mana saja.

"Masih banyak saya kira bidang-bidang kita untuk mengabdi," katanya.

Ia pun mengaku hobi dengan pendidikan.

Sehingga dirinya bisa mengabdi dengan mengajar di dalam negeri atau di luar negeri.

"Di alamamater saya di Nanyang Technology University, bisa menjadi Research Fellow, kemudian juga bisa menjadi pembicara mungkin, kemudian juga menulis, karena itu less stress full," katanya.

Lanjut dia, bisa juga mengabdi dengan ikut kegiatan-kegiatan sosial.

"Atau kegiatan-kegiatan lain yang sangat banyak yang bisa saya kerjakan." Ujar Tito yang juga pernah sekolah di Unversitas Exeter, Inggris dan Universitas Auckland dan Universitas Massey, Selandia Baru itu.

Ketika ditanya Budiman Tanuredjo soal adakah rencana untuk terjun ke politik, Tito menjawab tidak ada.

"Saya tidak tertarik dan tidak memiliki gen politik. Yak karena gen politik harus tarik menarik banyak musuhnya, bahkan nambah stress." Kata Tito.

Tito kelahiran Palembang, 26 Oktober 1964, merupakan lulusan terbaik Akpol 1987  atau penerima bintang Adhi Makayasa.

Saat ditunjuk menjadi Kapolri Juni 2016, Tito memotong sejumlah jenderal bintang yang lain termasuk Wakapolri Komjen Budi Gunawan. Akhirnya Budi Gunawan menjadi Kepala BIN dengan pangkat bintang empat. 

Tudingan kriminalisasi ulama

Kepolisian Repubik Indonesia (Polri) kini genap nerusia 71 tahun. Dalam perjalanannya, Polri menghadapi berbagai tantangan dalam penegakan hukum.

Belakangan, sebagian masyarakat merasa kinerja Polri tidak proporsional sehingga muncul tuduhan upaya kriminalisasi ulama kepada korps tribrata.

Tito menilai, klaim kriminalisasi ulama yang ditujukan kepada Polri merupakan upaya ofensif yang dilakukan oleh sekelompok pihak terhadap upaya Polri dalam menegakkan hukum.

Ia menambahkan, kriminalisasi berarti mengada-adakan sebuah perkara tanpa adanya aturan dan fakta yang mengikatnya.

Dalam setiap upaya penegakan hukum, Tito menegaskan, Polri selalu berpegang pada aturan dan fakta yang ada.

"Nah, kalau kita lihat yang dikatakan kriminalisasi ulama tadi, kita lihat perbuatannya. Ada yang dikenakan pasal makar, pasal pornogarfi, pasal makar apakah ada fakatnya. Ya, faktanya ada. Ada rapatnya. Upaya untuk menggulingkan pemerintah yang sah,” ujar Tito.

Begitu pula tuduhan kriminalisasi ulama dalam kasus pornografi. Ia mengatakan, ada fakta dan aturan yang mengikat terkait hal tersebut.

Tito menyatakan, dalam kasus tersebut, Polri telah meminta ahli teknologi informasi dan antropometri tubuh untuk menganalisis keaslian dan kecocokan gambar dan hasilnya disebut cocok dengan tersangka.

Terkait aturan, ia mengatakan, pasal pornografi tidak harus menunggu materi ponografi tersebar ke publik. Ia menuturkan, pihak pengirim dan penerima bisa langsung dijerat dengan pasal tersebut tanpa harus menunggu materinya viral.

Berbeda dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengharuskan materinya viral.

“Sekarang terminologi ulama. Kalau pendapat saya ini hanya digunakan untuk membuat image sedemikian rupa bahwa polisi dianggap main hakim sendiri atau katakanlah menggunakan politik hukum,” ujar mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu.

“Saya mengatakan bahwa kita berlakukan asas equality before the law. Persamaan di hadapan hukum. Tanpa memandang status sosial, laki-laki atau perempuan, pangkat atau jabatan,” lanjut Tito.

Penyerang Novel

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan pengungkapan kasus penyiraman penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan lebih sulit ketimbang kasus besar lainnya.

Bahkan menurut Tito, lebih mudah menangkap teroris seperti pelaku bom Bali daripada penyiram Novel Baswedan karena sangat sedikit meninggalkan jejak untuk diselidiki.

“Bom besar seperti bom Bali justru lebih mudah. Impact-nya besar. Tapi untuk menyelidikinya, bukti yang diitinggalkan pelaku pasti banyak sekali,” ujar Tito dalam wawancara eksklusif di Kompas TV, Sabtu (8/7/2017).

“Bom Kampung Melayu kenapa bisa cepat, karena yang bunuh diri bawa barang bukti utama. 
Mereka bunuh diri dua orang, itu barang bukti yang paling utama, kami melihat sidik jarinya. Menggunakan sistem inafis yang connect dengan e-KTP, sebentar langsung keluar,” ujar Tito.

Dia menuturkan, kasus penyiraman terhadap Novel tergolong ke dalam jenis hit and run dengan hitungan detik sehingga meninggalkan jejak yang sangat sedikit untuk ditelusuri.

Namun hingga saat ini dia mengatakan personelnya akan terus bekerja mengungkap kasus tersebut dan sudah memeriksa 56 saksi.

“Terakhir ada ketemu saksi yang beberapa detik sebelum kejadian dia melihat ada dua orang menggunakan sepeda motor, badannya besar tinggi, itu sudah dibuat sketsanya,” papar Tito.



BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Internasional, Olahraga Hingga Gosip Artis


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Mengejutkan, Tito Mendadak Mau Pensiun Dini, Terkait Kriminalisasi Ulama dan Novel? Rating: 5 Reviewed By: BG