728x90 AdSpace


Latest News
Senin, 10 Juli 2017

Tukul dan Cerita Ndesonya di Televisi


BERITA GOOGLEIklan sebuah operator selular di televisi sekitar 6 tahunan yang lalu, yang dibintangi Tukul Arwana yang saat itu sudah terkenal dan laris manis tetiba mengingatkan saya, setelah kasus ndeso-nya Kaesang yang menuai masalah dan dilaporkan ke polisi.

Saya sih tak maulah untuk membahas lagi soal kasus (akibat kata) ndeso ini. Tentu juga saya tak mau bahas tentang pengertian ndeso dan soal bahasa Jawa Inggil dan Kromo yang sudah banyak beredar di bacaan lain di internet ataupun di media mainstream. Tapi, tentang siapa yang menasionalisasikan istilah ini, hingga akhirnya akrab di telinga masyarakat.

Ndeso, atau sebagian pihak ada yang mengatakan ndesa, memang baru “menasional” karena Tukul Arwana. Program Empat Mata (yang kemudian jadi Bukan Empat Mata), menjadi panggung Tukul dalam dunia televisi, setelah cukup lama merintis karir, termasuk di Srimulat, meskipun memang posisi dia tak seperti Tarzan, Doyok, Kadir dan teman-temannya yang memang sudah terkenal saat itu.

Beberapa program TV memang pernah menjadikannya sebagai talent utama, namun hanya program inilah yang bertahan cukup lama, hampir 10 tahun di stasiun TV yang sama. Program yang hadir di tahun 2006 ini, diceritakan awalnya bukan untuk Tukul Arwana. Tim produksi TV7 (jelang rebrand ke Trans 7) awalnya mengusulkan kehadiran Komeng. Namun, sebuah usul yang terdengar “aneh” muncul ke permukaan, dimana Tukul diusulkan menjadi host program tersebut. Alasannya : karena kebodohannya.

Orang menertawakan karena kebodohannya. Hm?

Tapi, yang namanya pemirsa, tentu akan selalu manut-manut saja (meski kalau untuk konteks sekarang sepertinya tak boleh seperti lele). Tukul terpelanting ke belakang, celoteh khasnya seperti “eaaaa“ sebanyak 3 kali atau lebih dan penonton “bayaran” yang disebut “pondok indah, auuuuu“, hanyalah sebagian kecil dari wajah program yang asisten hostnya sudah berganti cukup banyak ini.

Meskipun pernah mengalami masa-masa dimana teguran KPI menjadi tak pernah berhenti, seperti ketika Tukul (sengaja?) melecehkan asisten hostnya ataupun adegan memakan katak hidup-hidup (kasus ini yang membuat programnya jadi Bukan Empat Mata, hanya demi mengakali aturan yang ada), namun pada akhirnya program ini terus bertahan.



Di akhir pekan, Tukul ada program juga, namanya Mister Tukul Jalan-Jalan. Program ini kira-kira sejenislah dengan Masih Dunia Lain ataupun Dua Dunia yang mengangkat sisi mistis suatu daerah atau lokasi. Tapi, Mister Tukul, tentu masih menampilkan sisi lawak dari si Tukul. Biasanya ia didampingi oleh seorang ahli supranatural dan seorang “asisten” yang tentunya perempuan juga. Pada bulan Ramadan, Mister Tukul diubah sejenak menjadi mengupas tempat wisata dan sejarah Islam di Indonesia. Kalau yang ini, hanya Tukul dan “asistennya” saja yang muncul di layar kaca.

Kini, ketiga program tersebut sudah dihentikan sepenuhnya pada 2016 lalu, bersama program Bukan Empat Mata, karena satu dan lain hal, seperti soal performa rating dan share yang kurang baik, ketidaksepakatan antara Tukul dengan Trans 7 hingga (mungkin) upaya Trans 7 membersihkan diri dari pesona mistisnya dan akhirnya menghasilkan Trans 7 yang seperti sekarang.

Program ini, bersama beberapa program lainnya, seperti Dahsyat, Inbox dan semacamnya, pada masanya sudah terlalu sering dikritisi banyak pihak. Seperti Remotivi, sebuah lembaga pemerhati persoalan media massa di Indonesia, yang membahas program ini pada salah satu video yang mereka unggah di Youtube. Tentu kita tahu bahwa program ini kebanyakan menghadirkan bintang tamu perempuan-perempuan yang dianggap cantik versi mereka, meski sebenarnya bintang tamunya beragam, termasuk juga para pejabat ikut nampang di program ini (meski pada awalnya mereka tak mau masuk ke program ini).

Nah, yang dipemasalahkan adalah, mengapa talkshow ini kemudian terkesan hanya mengeksploitasi kecantikan para perempuan? Apakah para perempuan tak bisa dikulik pemikirannya, karyanya, atau hal-hal lainnya yang tak melulu soal “pemuas” mata para lelaki? Tentu perdebatan soal ini akan melebarkan isi tulisan kemana-mana. Namun yang demikian, program ini setidaknya mengulik sisi lain gemerlapnya dunia hiburan, dimana semua orang didalamnya jadi saling mengeksploitasi diri demi kepentingannya masing-masing. Tentu yang “diperkosa” (lagi-lagi) adalah pemirsanya.

Tukul sendiri mungkin sebenarnya sadar bahwa ia “dieksploitasi”, tapi namanya juga mencari uang, tentu pada akhirnya apapun menjadi sah untuk dilakukan. Usai selesai dari Trans 7, Tukul sempat tampil di program Salam Ramadan RTV di tahun 2016 dan menjadi host Interview with Tukul Arwana di Kompas TV. Di program ini, Tukul Arwana akhirnya jadi lebih “elegan”. Kira-kira bolehlah setara dengan Sule dan Andre yang jadi “elegan” karena Ini Talkshow NET.

Tapi, apapun itu, ndeso pada akhirnya tergantung perspektif. Ndeso bukanlah sesuatu yang salah, apalagi hal yang buruk. Ndeso hanyalah tentang bagaimana melihat sesuatu yang terlihat jaman dulu dan tidak kekinian, dalam berbagai hal. Untuk mengidentifikasi suatu hal adalah jaman dulu dan tak kekinian pun, juga tergantung perspektif.

Apakah orang yang tak mengenal internet, layak dikatakan ndeso seperti yang disebut Tukul di iklan? Buat saya bisa iya, karena memang menunjukkan sikap “ketertutupan diri”. Tapi, juga tidak bisa dikatakan demikian, karena toh internet di negeri ini juga masih belum merata dan kecepatannya juga belum maksimal. Tentu perlu upaya untuk makin mengenalkan internet dan ilmu-ilmu unuk menghadapi “kejamnya” dunia internet yang makin gigih, disamping tentu menyediakan infrastruktur yang luas di seluruh Indonesia secara merata.

Akhirnya, perdebatan soal ndeso memang tak akan berhenti. Tapi, Tukul dengan ndesonya membuat kita tahu bahwa ndeso hanyalah kata, bukan menggambarkan kenyataan.



BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Internasional, Olahraga Hingga Gosip Artis


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Tukul dan Cerita Ndesonya di Televisi Rating: 5 Reviewed By: BG