Jerit Tangis Orangtua Asuh hingga Pingsan saat Serahkan Anak Adopsi ke Dinas Sosial


BERITA GOOGLESuasana sepi di Mapolsek Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun tiba-tiba jadi riuh. Histeria orangtua, yang diduga mengadopsi anak secara ilegal, memecah keheningan.

Mereka ada yang menangis, meraung-raung, meratap, bahkan ada ibu yang pingsan, saat terpaksa menyerahkan bayi mereka kepada pihak Dinas Sosial Simalungun, Senin (7/8).

Kepolisian Resort Simalungun melalui Polsek Tanah Jawa menyerahkan empat anak yang terselamatkan dalam praktik dugaan perdagangan orang atau human trafficking, adopsi ilegal ke Dinas Sosial. Keempat anak diserahkan setelah pihak Dinas Sosial memberi pengarahan di Mapolsek Tanah Jawa.

"Mohonlah Pak, mohonlah Buk biar, kami saja yang mengasuh mereka. Kami selama ini gak tahu hukum. Ke manalah caranya bisa kami bertemu lagi," kata MS sembari memeluk erat anak perempuan yang telah diasuhnya selama tujuh tahun.

Begitu juga LT. Ia tampak berat hati menyerahkan anak laki-laki kepada seorang perempuan dari Dinas Sosial. Tangannya seakan ingin terus memegang anak adopsinya. Berulang kali anak ia mencium anak adopsinya, dan memohon agar diizinkan memeluk anaknya untuk terakhir kali.

"Gak sanggup aku pisah sama anakku ini. Sinilah dulu, samaku. Mohonlah Buk, Pak jangan pisahkan aku dengan anakku. Biarlah kami yang merawat," ujarnya sambil terisak.


MIS, yang mengaku ayah kandung anak yang dilahirkan hasil hubungan tidak resmi dengan Lentina Panjaitan, histeris minta ampun dan berulang kali menyebut Tuhan. Beberapa kali kepalanya menengadah dan dan tangannya laiknya orang berdoa.

"Oh, Tuhan, apa salahku ini. Kenapa jadi begini aku. Itu anakku sendiri. Oh, Tuhan. Bukannya membeli, bukannya mengadopsi. Darah saya sendiri," kata pria berkaca mata tersebut.

Suasana haru tersebut membuat Afni dari Dinas Sosial hanya mampu menjelaskan prosedural hukum. Ia memastikan, anak-anak tersebut akan diasuh dan dijamin hidupnya selama di yayasan.

"Kami tahu ini sulit. Tapi inilah hukum. Ibu dan bapak bagaimana pun harus menyelasaikan dulu masalah ini. Anak-anak kami pastikan aman bersmaa kami," katanya.

Muda terus histeris saat pihak Dinas Sosial mengambil anak laki-lakinya. Ia terpaksa melepaskan anaknya untuk diasuh di Dinas Sosial, pascaterungkapnya praktik human trafficking, adopsi ilegal.

MIS terjerat kasus human trafficking, lantaran diduga mengadopsi anak dari Lentina (26) seorang pelayan kafe Aekliman di Buntu Bayu, Kabupaten Simalungun.

"Demi Tuhan itu anak kandungku. Aku juga punya tanah satu hektare dan aku juga berjualan. Aku bisa menjamin anakku itu. Meski tak mau mendahului Tuhan, aku bisa menjamin sekolah. Aku gak tahu ada hukum begini. Kalau tahu tak akan aku lakukan. Ini darah dagingku sendiri dari boru Panjaitan," ujarnya berderai air mata.

Di sisi lain, MS sudah tampak tergeletak tak sadarkan diri. Ia pingsan usai menyerahkan anak perempuan yang telah diasuhknya selama tujuh tahun kepada pihak Dinas Sosial. Polwan Putri Sinuraya tampak berupaya membuatnya supaya terjaga.

Bukan hanya Molina yang pingsan. Di dekat aula Polsek Tanah Jawa ada dua orang lagi yang pingsan. Satu di antaranya THS.

Menegakkan Aturan 

Suasana serah terima empat anak dari para tersangka kasus human trafficking, adopsi ilegal memang dipenuhi keharuan dan tangis. Tapi, pihak Dinas Sosial dan polisi tegas menegakkan Pasal 13 PP No 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, sehingga anak-anak tersebut diasuh negara, dalam hal ini Dinas Sosial.

"Jadi di sini kami (pekerja sosial) ada karena anak yang terlibat hukum human trafficking dan adopsi anak ilegal. Jadi kami berhak, atau diserahkan ke dinas sosial dan selanjutnya akan kami titipkan ke panti asuhan," kata Afni, kemarin.


Pihak Dinas Sosial tidak serta merta langsung membawa anak- anak tersebut dan memisahkan mereka dari orangtua pengadopsi. Pihak Dinas Sosial terlebih dahulu akan memberi pemahaman tentang perlindungan dan adopsi anak kepada para orangtua asuh.

"Untuk masalah kesejahteraan anak ini akan kami dampingi terus sampai besar nanti, karena ini terbentur dengan hukum. Apapun ceritanya anak-anak ini diserahkan ke negara. Lalu negara menitipkan ke Dinas Sosial. Jadi, dinas punya hak. Bagi bapak atau ibu yang mau lihat perkembangannya, bisa kami fasilitasi. Pastinya anak-anak ini tidak akan telantar dan masa depannya kami pertimbangkan. Kami cukup mengerti perasaan bapak-ibu. Saya sendiri terharu," ungkapnya.

maksimal 15 tahun 

- Terhadap tersangka human trafficking, Ernani Nofrida Simanjuntak (bidan) serta Eni Putri Ayu Sinurat (bidan pembantu) dikenakan Pasal 83 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana atau Pasal 79 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana, ancaman maksimal 15 tahun penjara.

- Terhadap Lentina Panjaitan (penjual bayi tiga kali) dikenakan Pasal 83 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana atau Pasal 79 UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana, ancaman maksimal 15 tahun penjara

- Terhadap tersangka pengadopsi ilegal, P, R, MIS alias Pendek, THS, NR, MS, TRN, dan LT, diancam dengan Pasal 83 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana atau Pasal 79 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana ancaman maksimal 5 tahun penjara

Terbongkar 

Praktik jual beli bayi di Simalungun terbongkar. Polisi mengamankan belasan orang yang diduga sebagai penjual bayi, pembeli bayi, dukun beranak (ahli persalinan tradisional), bidan, dan bayi di Mapolres Simalungun, Sabtu lalu.

Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan mengatakan, 12 orang diamankan terkait dugaan perdagangan delapan bayi di wilayah Simalungun. Pada kasus dugaan jual beli ini seorang bayi dibanderol Rp 15 juta.

Dugaan perdagangan bayi tersebut dibongkar Polsek Tanah Jawa, dipimpin Kompol Anderson, yang sudah lama menginvestigasi kasus tersebut.

"Polres Simalungun membongkar human trafficking di wilayah hukum Polres Simalungun. Kebanyakan kasusnya di Polsek Tanah Jawa. Sebelumnya terjadi di Parapat (Pesanggrahan). Ada dukun beranak, bidan, orangtua penjual bayi dan pembelinya kita amankan," katanya saat temu pers di Mapolres Simalungun, Sabtu (5/8).

Ia menambahkan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi warga. Senin lalu, sekitar pukul 12.00 WIB di Huta IV Aekliman, Kecamatan Hatonduan, Kabupaten Simalungun, ada seorang pelayan kafe berinisial Lentina Panjaitan (26), yang sebelumnya hamil besar, sudah tampak dengan perut kempes.

Lentina melahirkan pada 23 Juli 2017 di klinik praktik bidan Ernani Simanjuntak. Lalu dengan dalih tak punya biaya bersalin, bayi tersebut diduga diadopsi secara ilegal oleh pasangan R dan P melalui bidan pembantu Eni Putri Ayu Sinurat, Senin (24/7) sekitar pukul 22.00 WIB dengan harga Rp 15 juta.

"Jadi mereka ada perantara menjual bayi usai melahirkan di klinik praktik Bidan Ernani Simanjuntak. Dijual melalui bidan pembantu Eni Putri Ayu Sinurat dengan dalih biaya bersalin Rp 15 juta. Rata-rata alasannya karena ekonomi sulit atau tak mampu bayar biaya persalinan, dan hasil hubungan gelap di kafe remang-remang," kata Kapolres Simalungun.

Liberty didampingi Kapolsek Tanah Jawa dan Kanit Reskrim AKP Damos menjelaskan praktik perdagangan bayi ilegal atau adopsi tanpa sepengetahuan Dinas Sosial dan Pengadilan Negeri ini sudah berlangsung sejak tahun 2010.

"Mereka ini rata-rata pelayan kafe yang melahirkan hasil hubungan di luar nikah. Nah, anaknya dijual dengan alasan diurus orang lain melalui dukun beranak dan juga bidan dan perantara ke calon pembeli bayi," kata Liberty.

"Harganya dijual bervariasi, ada yang Rp 2,7 juta, Rp 7 juta, Rp 10 juta, bahkan hingga Rp 15 juta. Tarif tersebut untuk menebus biaya bersalin yang ditanggung para pembeli dan uang medis bersalin. Mereka pakai sistem transfer ke bidan pembantu," tambahnya.

Kasus tersebut masuk kategori perdagangan orang atau human trafficking sesuai penjelasan Anderson. Ia mengatakan, Letina sudah tiga kali menjual dan memberikan bayinya secara ilegal ke orang lain.

Pertama, ia memberikan anaknya kepada MS pada 2003, lewat dukun beranak Hot Mariana Manurung. Lalu melalui bidan Ernani dan Eni, Lentina menjual anak kedua Rp 2,7 juta pada Juni 2016. Anak tersebut dibawa ke Pulau Batam. Ketiga, Lentina menjual anaknya Rp 15 juta kepada pasangan P dan R, pada 24 Juli 2017.

Kapolsek Dilema

KAPOLSEK Tanah Jawa, Kabupaten Simalungung Kompol Anderson Siringoringo, secara perlahan menjelaskan, sebagai aparat hukum harus menegakkan hukum secara tegas.

Ia juga mengakui, ada dilema pada kasus dugaan perdagangan orang atau human trafficking, adopsi anak secara ilegal, yakni perasaan dan penegakan hukum.

Ia pun menyarankan, orangtua yang diduga mengadopsi anak secara ilegal, mengikuti prosedur hukum agar bisa bebas dan kembali bersama anak mereka, yang saat diasuh Dinas Sosial.

"Pihak Dinsos sudah menjelaskan bagaimana adopsi yang benar. Nanti coba lanjutkan supaya dari penetapan adopsi dari pengadilan negeri," katanya.

Menurutnya, polisi pada kasus tersebut hanya menegakkan hukum. "Ini dilema penegakan hukum. Tapi, kami akan menegakkan hukum apapun risiko dan efeknya. Kami harus tegar melaksanakan tugas sesuai undang-undang. Kami minta Bapak dan Ibu koordinasi ke Dinsos sial mekanismenya," katanya.

Anderson pun berupaya memberi support kepada tersangka pelaku dugaan perdagangan orang atau human trafficking, adopsi anak secara ilega, yang kebanyakan mengaku, tidak tahu soal prosedural adopsi anak sesuai Pasal 13 PP No. 54 Tahun 2007.

"Bapak dan Ibu berhadapan dengan hukum, jalani dulu prosesnya. Biarlah anak-anak ini diurus di Dinas Sosial," ungkapnya.



BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Internasional, Olahraga Hingga Gosip Artis


Labels: Berita Terkini, Slider

Thanks for reading Jerit Tangis Orangtua Asuh hingga Pingsan saat Serahkan Anak Adopsi ke Dinas Sosial. Please share...!

Sports

S

Sejarah

Kesehatan

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms
Back To Top