Tokoh Tionghoa : Louw Djing Tie , Sang Pendekar Shaolin di Tanah Jawa


BERITA GOOGLE - Kisah Louw Djing Tie, Pendekar Shaolin di Tanah Jawa
Kisah Louw Djing Tie berawal dari tempat kelahirannya di Kampung Khee Thao Kee dekat Kota Hayting, Hokkian, Cina, sekitar tahun 1855.

Dia Memiliki bakat dalam ilmu beladiri, sehingga sang kakak mengirimnya ke perguruan Shaolin.
Selain ilmu Shaolin Louw Djing Tie, belajar kungfu dari Biauw Tjien, pendeta tua yang juga alumnus Shaolin. Dari guru tersebut, Djing Tie mendapat ilmu yang bisa menjadikan barang di sekitar sebagai senjata, mulai melempar uang logam dan jangka, meniup jarum dan kacang hijau hingga menancap di tembok, sampai tipu muslihat dengan selendang pengikat pinggang, jika dilempar, orang seperti melihat ular.

Setelah 15 tahun keluar-masuk padepokan, Djing Tie muda mencari penghidupan di Hok Ciu, ibu kota Hokkian. Kebetulan pemerintah mencari guru silat sebagai pelatih pasukan. Syaratnya, mampu mengalahkan jawara mereka. Namun naas dalam pertarungan tersebut Djing Tie membunuh lawannya, sehingga ia kabur sebagai buronan. Hingga akhirnya merantau sampai ke Indonesia, tepatnya mengadu nasib sebagai pedagang barang keliling di Toko Tiga, Glodok, Jakarta Barat.
Kemampuan silat Djing Tie tidak perlu diragukan lagi, suatu waktu Djing Tie pernah menghadapi serdadu Belanda yang menganggu kaum pribumi. Bahkan Djing Tie pernah berhadapan dengan 15 orang bersenjata, dan berhasil mengalahkannya. Djing Tie tutup usia di Parakan pada 1921 dalam usia 66 tahun, makamnya sempat dipindahkan dari kaki gunung Manden menuju puncak gunung.
Temanggung, Jawa Tengah, 8 september 2012. TEMPO/Reza Maulana .




Louw Djing Tie Sang Pendekar Shaolin dari Parakan Jawa Tengah
Bong ( Kuburan Tionghoa ) bundar di puncak bukit Menden, Parakan, Temanggung, itu terlihat renta. Beberapa bagiannya rusak dan berlumut. Setumpuk batu-bata tertata rapi di depan epitaf. Bagi awam, makam yang menghadap ke Gunung Sindoro-Sumbing itu tak punya nilai apa-apa. Tapi warga Tionghoa Parakan amat memuliakannya. Itulah makam Louw Djing Tie tokoh yang dipercaya sebagai pendekar yang pernah malang-melintang dalam rimba persilatan di Tanah Jawa. Konon, semasa hidup dia disegani, baik oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski memiliki kemampuan bela diri kunthauw (kung fu) yang tinggi, dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Djing Tie disebut-sebut sebagai Wu Lin Meng Zhu, atau yang teragung di rimba persilatan.
Kisah Djing Tie pertama kali ditulis oleh Tjiu Khing Soei dengan judul Garuda Mas dari Cabang Siaouw Lim, terbitan Semarang, pada akhir 1920-an. Penulisnya adalah tetangga Djing Tie. Cerita itu ditulis ulang menjadi Dua Jago Silat di Java pada 1935 dan diterbitkan ulang oleh Gramedia
dalam Kesastraan Melayu Tionghoa Jilid 5, April 2002.

Louw Djing Tie lahir pada tahun 1855. merupakan anak nomer dua dari tiga bersaudara kakak laki-laki bernama louw djing lian dan adik perempuannya bernama Louw Djing Hiang. Sejak kecil Djing Tie sangat nakal .

Djing Tie memiliki perangai keras dan berani , hampir setiap hari ia terlibat perkelahian denan anak-anak lain. Pada waktu Djing Tie berumur sembilan tahun .Ia mendapat luka di dahi, yang membekas hingga ia dewasa.

Kelakuan ini terus berlanjut sampai akhirnya ia dikirim ke kuil shaolin. Seperti murid lainnya, pada tahun pertama, kerjanya hanya mengambil air di gunung dengan dua ember untuk memperkuat otot-ototnya. Djing Tie menghabiskan enam tahun masa remajanya di Shaolin, disini ia mempelajari
ilmu tenaga dalam dan tenaga luar. Ia juga diajari mengunakan berbagai senjata rahasia seperti jarum dan uang logam. Selain itu Djing Tie juga memperdalam teknik mengalirkan Chi (tenaga murni) ke seluruh tubuh dan ilmu penggobatan yang berhubungan degan tulang. Dengan mengantongi keahlian silat, tenaga dalam dan ilmu pengobatan ia kembali ke kampungnya.

Suatu hari pemerintah daerah setempat mengadakan seleksi guru kung fu untuk dijadikan pelatih tentara setempat . Dalam seleksi tersebut banyak guru-guru kung fu yang ikut serta termasuk Djing Tie . wakil dari pusat adalah guru kung fu dari shan tung yang sangat hebat. Hingga lima orang lawan masih dapat ia kalahkan dengan mudah . Sampai pada giliran kawan Djing Tie yang bernama Lie Wan untuk naik panggung. Kali ini pertarungan berjalan seru dan seimbang. Penonton yang hadir sangat menikmati pertunjukan itu.

Tapi Lie Wan nampak tidak sabar, ia ingin menyelesaikan pertarungan dengan cepat, maka disuatu kesempatan ia menggunakan jurus berbahaya dengan memukul mengunakan kedua tangan ketubuh si guru kung fu.
Dengan cepat guru kung fu itu menghindar serangan Lie Wan dan ia menyerang balik. Djing Tie yang melihat serangan itu meloncat naik panggung dan menyerang dengan menendang kemaluan sang guru kung fu dan mengalami cedera parah. Djing Tie segera menyadari bahwa tindakannya telah melanggar hukum maka ia dan Lie Wan segera melarikan diri dari tempat tersebut.
Djing Tie sadar bahwa kesalahan ini sangatlah fatal dan bisa dihukum berat, untuk itu ia bertekad meninggalkan Tiongkok . Sementara Lie Wan pergi menetap di Singapura dan menjadi tabib di sana. Djing Tie tinggal bersama Lie Wan dan mengajarkan kung fu pada pegawai toko. Tetapi tidak beberapa lama ia berniat ke pulau jawa. Maka Djing Tie berangkat menuju pulau jawa dan mendarat di Batavia. Di Batavia Djing Tie mencoba berjualan, namun karena kurang beruntung ia pindah ke semarang, lalu kemudian ke kendal. Di kota ini Djing Tie berjualan ikan asin dipasar dan perlahan-lahan orang mengenal kepandaian Djing Tie karena sering mengobati orang yang salah urat ataupun terpukul.

Suatu hari ada kenalannya yang tinggal di Ambarawa mengajak Djing Tie ke Ambarawa untuk membuka perguruan kung fu dengan diam-diam, karena pada saat itu belajar kung fu dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda.
Murid-murid yang belajar diperguruan kung fu Djing Tie mulai banyak dan nama Djing Tie sebagai guru kung fu mulai dikenal orang. Di tempat ini Djing Tie juga terkenal sering mengobati orang yang terkilir.

Di Ambarawa, keahlian kung fu Djing Tie di uji, saat dua serdadu Hindia Belanda yang mabuk mengobrak-abrik warung makan. Dia menarik lengan mereka seenteng bocah menyeret mainan. "Nah, pulang saca, sekalang suta (pulang saja, sekarang sudah) malam", kata Djing Tie.
Tidak terima dipermalukan, esoknya serdadu itu mengajak temannya untuk membalas. Namun 15 serdadu bergolok pun bukan lawan Djing Tie, yang hanya mengandalkan kepalan dan kepangan rambut yang berfungsi sebagai cemeti.
Perlahan-lahan kepiawaiannya berkungfu menjadi buah bibir masyarakat. Be Khang Pien, pendekar yang bekerja sebagai keamanan di kediaman Kapten China Semarang Be Ing Tjoe di Kebondalem, pun merasa penasaran. Be Khang Pien ingin menjajal kemampuan ilmu bela diri Djing Tie. Dia mengajukan tantangan.

Mula-mula Djing Tie enggan melayani. Namun karena terus dipaksa, dia terpaksa menerima tantangan itu.
Dengan disaksikan sejumlah orang, mereka bertarung. Setelah sekian lama, Djing Tie memiliki kesempatan menghantam lawan. Namun, pendekar yang rendah hati itu enggan melakukannya. Dari sana Be Khang Pien tahu Djing Tie bukan orang sembarangan. Tak hanya hebat, dia juga rendah hati. Menyadari hal itu, Be Khang Pin kemudian menjalin persahabatan dengan Djing Tie.
Dari Ambarawa Djing Tie pindah ke Wonosobo. Di kota Wonosobo Djing Tie tidak terlalu lama, terus pindah ke Parakan, kota kecamatan yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya orang Tionghoa. Saat Louw Djing Tie tinggal di Parakan, ia mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitarnya .

Namun The Soei, seorang guru kungfu di daerah itu merasa ingin menguji kehebatan Djing Tie.
Tantangan itu dilayani dan untuk menghindari jatuhnya korban, maka disepakati mengganti senjata tajam dengan sebatang kuas yang ujungnya dicelup tinta cina.
Kedua jagoan itu saling menyerang, tusuk-menusuk secara bergantian. Djing Tie dapat mendesak The Soei. Berkali-kali dia berhasil menorehkan ujung kuasnya ke daerah berbahaya di bagian tubuh The Soei. Kalau mau, barangkali Tubuh The Soei sudah penuh bercak-bercak tinta. Namun seperti halnya saat bertarung melawan Be Khang Pien, Djing Tie enggan banyak-banyak menusukkan ujung kuasnya.

Pertarungan itu dinyatakan seri, namun The Soei yang tahu keadaan sebenarnya menjadi sangat hormat pada Djing Tie dan menjadi sahabat baik.
Diusia tuanya dia memiliki banyak murid dan tak pernah bosan menularkan ilmu beladirinya. Salah satu murid terakhir sekaligus kesayangan
Djing Tie adalah Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Dialah yang merawat Djing Tie di usia tua hingga meninggal dunia pada usia 66 tahun (1921). Di nisannya terpahat tulisan Mandarin yang artinya
Dipersembahkan Untuk Guru Louw Djing Tie, Dibangun Oleh Semua Anak Murid, Meninggal Pada Tahun Kesembilan Kemerdeekaan Tiongkok
(Disadur dari berbagai sumber).

===
LIONG HOUW BU KOAN ( Oriental Martial Arts Institute )
Louw Djing Tie
Louw Djing Tie yang lahir pada tahun 1855, merupakan anak nomor dua dari tiga bersaudara, kakaknya bernama Djing Lian dan adiknya yang perempuan bernama Djing Hiang. Sejak kecil Djing Tie sudah terkenal sebagai anak nakal, namun ia sangat mencintai orang tuanya. Djing Tie
memiliki perangai yang keras dan berani, hampir setiap hari ia terlibat perkelahian dengan anak-anak lain. Pada waktu Djing Tie berumur 9 tahun ia
mendapat luka di dahinya, yang terus membekas hingga ia dewasa. Ada satu kejadian di mana Djing Tie untuk pertama kalinya menyaksikan kepandaian seorang ahli Kung Fu.
Di kota Hay Ting ada seorang biksu pengembara yang dikenal dengan Thi Cing (Biksu besi). Biksu ini memiliki tenaga yang sangat kuat, ia selalu berkeliling kota sambil mengemis dengan paksa dan mengancam. Semua orang di kota Hay Ting tak ada yang berani menghentikan kelakuan biksu bejat ini karena takut dicelakai olehnya. Djing tie yang telah mengetahui kejahatan biksu bejat itu suatu ketika bepapasan dengan Thi Cing disebuah jalan. Jiwa kepahlawanan Djing Tie timbul melihat orang jahat tersebut, ia pun mengambil sebuah batu dan menimpuk kepala Thi Cing yang botak. Timpukan itu mengenai penutup kepala Thi Cing, hingga menjadi miring. Namun Thi Cing berpikir bahwa hal itu tidak disengaja, makanya ia pun terus berjalan sambil memukul Bokhe (peralatan sembahyang).

Louw Djing tie pun segera menimpuk untuk kedua kalinya, dan kali ini membuat penutup kepala Thi Cing hampir jatuh. Ti Ching pun mulai menyadari bahwa timpukan itu merupakan perbuatan yang disengaja. Saat Thi Cing masih mengomel, Djing Tie kembali menimpuknya, dan kali ini benar-benar membuat penutup kepala Thi Ching jatuh ke tanah. Thi Ching menjadi sangat marah, dengan segera ia melompat dan mengejar ke arah Djing Tie

sambil mengancam akan membunuhnya. Djing Tie pun dengan segera melarikan diri, tapi karena ia terburu-buru, Djing Tie memasuki sebuah jalan buntu. Djing Tie pun tak kehilangan akal ia segera memasuki sebuah warung yang berada di jalan buntu tersebut. Di warung tersebut Djing Tie bertemu dengan lelaki tua yang merupakan si tukang masak tahu di warung tersebut. Kepada orang tua ini Djing Tie menceritakan kejadian yang ia alami dengan singkat dan memohon agar ia diperbolehkan bersembunyi di tempat tersebut. Orang tua itu pun memperbolehkannya masuk ke ruang belakang sambil tersenyum. Saat Djing tie masuk ke ruang belakang, si biksu Thi Ching pun tiba di depan warung tahu tersebut.

Biksu itu pun langsung menduga bahwa Djing Tie berada di dalam warung tersebut, dan langsung menegur si orang tua. Orang tua itu mengaku sebagai kakek dari Djing Tie dan memohon agar biksu itu dapat memaafkan kenakalan cucunya tersebut. Si biksu Thi Cing malah menjadi marah, ia mengancam jika si kakek tidak mengeluarkan cucunya maka ia akan memukul kepala si orang tua.
Mendengar ancaman itu si kakaek tidak menjadi gentar malahan menjawab bahwa tidak akan semudah itu memukul dirinya. Thi Cing pun menjadi sangat murka, ia langsung menyerang si orang tua dengan segenap tenaga. Tanpa diduga si orang tua langsung mendahului serangan Thi Cing dengan pukulan lima jari. Si biksu Thi Cing pun mundur terhuyung-huyung, dan langsung melarikan diri karena ternyata ilmu si orang tua lebih tinggi dari dirinya.

Kejadian tersebut disaksikan oleh Djing tie yang mengintip dari ruang belakang, ia pun menjadi terkejut dan kagum luarbiasa dengan kemampuan si orang tua tersebut. Setelah itu si orang tua pun menasehati Djing Tie bahwa perbuatannya dapat mencelakai dirinya sendiri. Kejadian itu membuat Djing Tie menyadari kesalahannya, ia pun berubah menjadi lebih pendiam.
Sejak saat itu pun Djing tie mulai giat berlatih Kung Fu di salah satu perguruan di desanya. Tetapi baru setahun Djing Tie menekuni beladiri, kedua orang tua mendadak meninggal secara beruntun.. Kemalangan ini membuat Djing tie harus pindah dan tinggal pada saudaranya di tempat lain. Keluarga ini sangat miskin, sehingga Djing Tie tidak dapat melanjutkan pelajaran Kung Fu, dan harus bekerja demi sesuap nasi.

Namun saat Djing Lian saudara tua Djing Tie kembali dari perjalanannya, ia pun segera membawa Djing Tie dan Djing Hiang ke tempat lain. Djing Lian pun akhirnya mengirim Djing tie untuk belajar ilmu beladiri di Biara shaolin di Songshan.
Di sinilah Louw Djing Tie memperoleh banyak kepandaian dalam bertarung dan meramu obat-obatan. Dari biara Shaolin, Djing Tie mengusahakan kebun peninggalan orang tuanya, sesekali ia juga mengajarkan kepandaian Kung Fu pada adiknya, Djing Hiang.

Suatu ketika seekor binatang peliharaan milik Djing Tie diganggu oleh seekor harimau, hal ini sering terjadi di daerah perkampungan pada saat itu. Namun hal itu membuat Djing Tie ingin menjaga keamanan para penduduk. Pada suatu malam dengan menggunakan umpan seekor anak kambing, Djing Tie berniat menghajar harimau tersebut. Harimau itu pun baru muncul pada malam ke sembilan, dan Djing segera menyerang dengan sebilah pisau. Tusukan pertama lolos karena harimau itu menghindar dengan cepat. Tapi tusukan kedua segera disarangkan ke tubuh harimau tersebut, hingga binatang itu meraung keras dan segera berbalik menerkam Djing Tie. Tanpa ragu Djing Tie tidak menghindar terkaman tersebut, malah saat harimau itu menerkam ia membarengi dengan tusukan ke arah leher binatang buas itu. Tanpa ada perlawanan lagi harimau besar itu langsung roboh ke tanah. Peristiwa ini membuat kegemparan di daerah tersebut, dan melambungkan nama Louw Djing Tie.

Beberapa hari setelah berhasil membunuh harimau, Djing Tie melakukan perjalanan ke bukit Kouwshan. Di sana ia berniat untuk melanjutkan pelajaran Kung Fu pada seorang pendeta bernama Biauw Tjin yang merupakan seorang guru lulusan dari Shaolin juga. Pada Biauw Tjin suhu,
Louw Djing Tie mempelajari ilmu tenaga dalam dan tenaga luar. Ia pun berlatih menggunakan berbagai macam senjata rahasia seperti jarum besi dan uang logam.
Djing Tie berlatih Kung Fu selama enam tahun di bukit Kouwshan, hingga sang guru pergi mengembara kembali. Namun sebelum berpisah sang guru memberi saran untuk Djing Tie supaya melanjutkan pelajarannya pada temannya yang bernama Kang Too Soe.

Dengan segera Djing Tie pergi menemui Kang Too Soe, pada guru ketiganya ini Djing Tie mempelajari ilmu menyumpit dan totok jalan darah. Selain itu Djing tie juga memperdalam teknik mengalirkan chi (tenaga murni) ke seluruh bagian tubuh, dan juga ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang. Setelah tujuh tahun belajar di bawah bimbingan pendeta Kang Too Soe, Djing tie pun pergi ke kota Hok Ciu, propinsi Hokkian, dan mendirikan perguruannya sendiri. Murid Djing Tie pun kian bertambah banyak, salah satu yang menjadi murid pandai di perguruan ini adalah Djing Hiang adik perempuannya sendiri, yang dikatakan sangat lihai ilmunya.

Suatu hari pemerintah daerah setempat mengadakan sebuah seleksi guru Kung Fu untuk dijadikan pelatih tentara setempat. Dalam seleksi tersebut Djing Tie termasuk salah seorang peserta dari banyak jago-jago Kung Fu di daerah tersebut. Wakil dari pemerintah adalah seorang guru Kung Fu dari daerah Shantung. Guru Kung Fu dari Shantung itu ternyata cukup hebat, hingga lima orang lawan masih dapat ia kalahkan dengan mudah. Sampailah pada giliran seorang kawan Djing Tie yang bernama Lie Wan untuk naik ke atas panggung pertarungan. Kali ini pertarungan berjalan seimbang, penonton yang hadir pun sangat menikmati pertunjukan ilmu Kung Fu keduanya. Tapi Lie Wan nampaknya tidak sabaran, ia ingin menyelesaikan

pertarungan ini dengan cepat, maka di satu kesempatan ia menggunakan teknik berbahaya dengan menghantamkan kedua tangannya ke tubuh si guru Kung Fu. Dengan cepat guru Kung Fu itu menghindari serangan Lie Wan, dan ia pun siap untuk menyerang. Djing tie yang melihat serangan berbahaya tersebut, dengan segera naik ke atas panggung dan menendang kemaluan si guru Kung Fu hingga mengalami cedera fatal. Djing Tie segera menyadari bahwa tindakannya telah melanggar hukum, maka ia dan Lie Wan pun segera melarikan diri dari tempat tersebut.

Djing Tie sadar bahwa kesalahannya ini sangatlah fatal dan bisa membuat dirinya dihukum berat. Untuk itulah ia pun bertekad untuk pergi keluar dari negeri China, sementara Lie Wan pergi menetap di Amoy, dan menjadi seorang tabib. Djing tie pun pergi ke Singapura. Di Singapura Djing Tie tinggal di sebuah toko obat dan mengajar Kung Fu pada para pegawai toko. Tak berapa lama Djing tie tinggal di Singapura, ia pun berniat untuk mengembara di pulau Jawa. Maka Djing tie pun berangkat menuju pulau Jawa dan mendarat di Batavia (Jakarta). Di tempat barunya Djing tie mencoba berjualan, namun karena kurang berhasil ia pun pindah ke Semarang, lalu kemudian ke Kendal. Di kota kecil ini Djing Tie berjualan ikan asin di pasar, dan perlahan-lahan orang mulai mengenal kepandaian Djing Tie karena ia sering mengobati orang salah urat, atau luka terpukul.
Suatu hari hari ada seorang kenalannya yang tinggal di Ambarawa mengajaknya pindah ke Ambarawa, dan membuka sebuah perguran Kung Fu dengan diam-diam. Karena pada masa itu mempelajari ilmu beladiri masih dianggap terlarang oleh pemerintah. Murid-murid yang belajar di perguruan itu mulai bertambah banyak, dan nama Djing Tie sebagai guru Kung Fu mulai dikenal orang. Di tempat ini Djing Tie juga sering mengobati orang yang terkilir atau luka terpukul.

Suatu ketika saat Djing Tie berkunjung ke toko obat kenalannya ia melihat dua orang serdadu yang tengah mabuk minuman membuat keonaran di warung, di depan toko obat kenalannya. Djing Tie yang kasihan dengan pemilik warung tersebut, maju dan mengcengkeram lengan kedua serdadu tersebut dan menariknya keluar. Kedua serdadu itu memberontak, namun cengkeraman Djing Tie begitu kuat dan tak bisa dilepas. Setelah di luar Djing Tie menegur dan mengusir mereka. Kedua serdadu yang mabuk itu pergi dengan sempoyongan sambil terus mengomel.

Keesokan harinya kedua serdadu itu mendatangi warung itu kembali, dan menanyakan Djing Tie pada si pemilik warung. Karena terus diancam si pemilik warung memberitahu bahwa Djing Tie sering berada di toko obat kenalannya. Dua serdadu itu pun segera mendatangi toko obat kenalannya Djing Tie, dan menemukan Djing Tie sedang duduk santai di depan toko. Kedua serdadu itu segera menghampiri Djing Tie, dan mencekal kedua lengannya dengan kuat serta menariknya untuk menjatuhkannya dari tempat duduknya. Tapi perbuatan itu sama sekali tak berarti, Djing Tie tetap tak bergeser dari tempat duduknya. Merasa usahanya menjatuhkan Djing Tie gagal, keduanya mulai memukul, jika Djing tie mau dengan sekali gebrakan dua orang serdadu itu akan terpental jauh. Namun Djing Tie tak mau membuat mereka malu, maka ia hanya menangkis saja.

Beberapa kali pukulan mereka ditangkis oleh lengan Djing Tie membuat lengan mereka terasa sakit. Mereka pun agak heran melihat Djing Tie masih duduk di tempatnya semula. Kedua orang itu pun berlari ke jalan dan mengambil batu untuk menimpuki Djing Tie. Timpukan batu secara beruntun itu dengan mudah dapat dihalau oleh Djing Tie yang masih dalam keadaan duduk. Kenyataan itu membuat kedua serdadu tersebut malah makin mendongkol.

Mereka lalu mengambil dua batang bambu dan mencoba mengeroyok Djing Tie. Ketika kedua batang bambu tersebut terayun ke arahnya, Djing Tie dengan cekatan menangkap ujung kedua batang bambu tersebut. Kemudian dengan kuat dan cepat ia menarik, lalu mendorong kedua batang bambu tersebut sehingga kedua orang serdadu tersebut terpental ke tengah jalan. Dengan segera keduanya bangkit dan melarikan diri sambil mengancam. Orang banyak yang menyaksikan kejadian itu dapat mengukur kemampuan Louw Djing Tie yang sangat tinggi.

Keesokan harinya saat Djing Tie masih berada di rumahnya, seorang tetangganya yang menyampaikan bahwa belasan serdadu sedang menghancurkan toko obat tempat Djing Tie biasa bersantai di sore hari. Sewaktu sampai di toko obat tersebut, belasan serdadu tersebut langsung mengepung Djing Tie, dua orang di antaranya adalah dua serdadu yang dipermalukan Djing Tie kemarin. Belasan serdadu ini masing-masing ada yang memgang golok, pentungan besi, dan senjata lainnya. Dengan segera mereka menyerang Djing Tie dengan ganas, namun Djing Tie telah bergerak dengan cepat dan merebut sebuah tongkat besi dari tangan salah seorang penyerangnya. Dengan tongkat tersebut Djing Tie menghadapi semua penyerangnya, ia memukuli lengan para penyerangnya agar kehilangan tenaga untuk menyerang kembali. Tanpa berlama-lama para serdadu tersebut lari tunggang langgang menghadapi kehebatan Kung Fu Djing Tie. Beberapa serdadu yang keras kepala untuk terus menyerang, bahkan dibuat terkapar di tanah.

Kedua serdadu tersebut ternyata masih memiliki dendam, kali ini mereka berniat untuk mencelakai Louw Djing Tie dengan serangan mendadak. Beberapa hari setelah kejadian pengeroyokan tersebut, Djing Tie pergi untuk menemui seorang kenalannya yang tinggal di samping pasar. Waktu itu kira-kira jam delapan malam, dan Djing Tie melewati jalan dengan pepohonan besar di kanan dan kirinya. Saat Djing Tie melewati salah satu pohon, seorang serdadu menyerang dari belakang dengan sebuah botol. Tapi dengan nalurinya yang tajam, Djing Tie bergerak menangkap tangan si penyerang dan mendorongnya hingga terjatuh ke tanah. Setelah itu dari arah pohon yang lain muncul kawan si penyerang yang menikam Djing Tie dengan sebuah pisau. Dengan sigap Djing Tie menggeser tubuhnya dan menangkap tangan si penyerang tersebut. Berbarengan dengan itu,penyerang yang ketiga telah maju ke arah Djing Tie. Dengan segera Djing Tie memutar kepalanya sehingga kuncir rambutnya menghantam wajah si penyerang ketiga bagaikan pecut.

Mengetahui serangannya gagal, tiga orang tersebut langsung melarikan diri meninggalkan Djing Tie sendirian. Kejadian itu membuat para serdadu tersebut sadar bahwa orang yang mereka incar bukanlah orang sembarangan. Sejak hari itu para serdadu tersebut tidak pernah lagi mencari gara-gara untuk membuat keributan. Kelihaian ilmu Kung Fu Louw Djing Tie memang sudah sangat terkenal, begitu juga dengan ilmu pengobatannya. Tapi satu lagi keahlian Djing Tie yang jarang diketahui orang adalah ia pandai bermain sulap. Bahkan dalam suatu peristiwa, Djing Tie pernah menolong anak perempuan seorang penjual mie yang akan diperas oleh seorang hartawan bejat, dengan menggunakan ilmu sulapnya. Louw Djing Tie memang terkenal orang yang sangat ringan tangan dalam menolong sesamanya.

Saat Louw Djing Tie tinggal di Parakan, ia mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitar. Namun seorang guru Kung Fu setempat yang bernama The Soei merasa ingin menguji kehebatan Djing Tie. The Soei adalah seorang ahli Kung fu yang sangat kuat, ia memiliki tubuh yang
tinggi besar, setiap ia berlatih Kung Fu di halaman rumah, air dalam vas bunga pun dapat bergoncang karena kekuatannya. The Soei pun mengajukan tantangan untuk mengadu ilmu dengan Djing Tie. Maka pada suatu sore Djing Tie pun bersedia melakukan pertandingan dengan The Soei, dengan disaksikan para sahabatnya di Parakan. Pertandingan tersebut dilangsungkan dengan menggunakan kuas Mo Pit yang diberi kapur pada ujungnya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari cedera pada kedua petarung tersebut.

Kedua ahli Kung Fu tersebut mulai saling menyerang dengan sangat cepat, tusuk menusuk pun terus bergantian. Beberapa waktu kemudian Djing tie mulai dapat mendesak The Soei, beberapa kali Djing Tie berhasil mengenai daerah berbahaya tubuh The Soei dengan ujung kuasnya. Tapi Djing Tie ingin menjaga harga diri The Soei, jika ia mau mungkin tubuh The Soei akan penuh dengan totolan kapur dari kuas Djing Tie. Tapi dengan sengaja Djing Tie mengalah dengan membiarkan The Soei menotolkan kuasnya ke tubuh Djing Tie.

The Soei pun lambat laun mengetahui kelihaian ilmu Kung Fu Djing Tie, ia pun menjadi kagum dengan kerendahan hati Djing Tie. Pertandingan hari itu pun dinyatakan seimbang, namun The Soei yang mengetahui keadaan sesungguhnya menjadi sangat hormat pada kehebatan Louw Djing Tie.
Di usia tuanya Louw Djing Tie memiliki banyak murid, yang menjadikan ilmu Kung Fu menjadi lestari hingga saat ini.

Perguruannya menjadi sangat terkenal dan ia pun tidak pernah bosan melatih para muridnya dengan sangat baik. Louw Djing Tie meninggal pada usia 66 tahun di tahun 1921.
Tetapi nama Louw Djing Tie dikenang sapai sekarang dan juga perguruannya terkenal diseluruh jawa dengan nama Perguruan Kung Fu Garuda Emas Semarang yang ketuanya masih keturunan Louw Djing Tie.



BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Internasional, Olahraga Hingga Gosip Artis

Bantuan Anda, Berita Heboh, Berita International, Berita Terkini, Berita Unik, Cerita Cinta, Cerita Lucu, Cerita Mengharukan, Entertainment, Film Cinta, Film Lucu, Film Mengharukan, Handphone, Kesehatan, Kuliner, Orang Hilang, Penipuan, Sejarah, Slider, Sports, Tionghoa, Video, Zodiak
Labels: Sejarah, Slider, Tionghoa

Thanks for reading Tokoh Tionghoa : Louw Djing Tie , Sang Pendekar Shaolin di Tanah Jawa . Please share...!

Sports

S

Sejarah

Kesehatan

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms
Back To Top