• Latest News

    Selasa, 17 Juli 2018

    Bantu Share Gadis Belia Bercita-cita Dokter Itu Terbaring Lemah Digerogoti Tumor Otak, Matanya Pun Sulit Meliha


    BeritaGoogle.com - EILLEEN Anastasya Sulastri Tinambunan memendam cita-cita dokter gigi. Untuk mewujudkan niatnya itu, ia pun rajin sekolah dan tekun belajar. Bukan hanya saat dalam kondisi sehat, ketika sakit pun, memaksakan diri agar tetap sekolah.

    "Anak kami ini punya keinginan kuat untuk bersekolah. Sejak kecil punya cita-cita jadi dokter gigi. Sampai sekarang, kalau ditanya, dia tetap berkeras harus jadi dokter gigi. Untuk itu, dia memaksakan diri tetap sekolah, walaupun sakit, ingin terus belajar. Sampai suatu saat, dia tumbang, kakinya lemah dan tidak mampu lagi bersekolah," ujar Elwin Tinambunan, ayah Tasya,  demikian keluargnya menyapa Eilleen Anastasya Sulastri Tinambunan, melalui telepon dengan Tribun-Medan.com.

    Tasya tumbuh menuju remaja. Gadis usianya 13 tahun ini meraih juara III Kelas 1A SMP Negeri 3 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera utara. Ia anak pertama dari pasangan Elwin Tinambunan dan Tiodor boru Sitinjak.


    Saat teman-teman sekelasnya memasuki hari pertama sekolah, Senin (16/7/2018), Tasya terpaksa hanya mendengar kabar. Sebab sudah satu semester lebih, tidak dapat lagi menempuh pendidikan.

    "Anak kami, berhenti total sekolah sejak pertengahan Januari 2018 lalu. Saat itu semester II kelas II. Seharusnya, hari ini, dia kelas III SMP," ujar Elwin, Senin (16/7/2018) pagi melalui sambungan telepon.

    Elwin menceritakan, Tasya menderita penyakit tumor.



    Pandangan Mulai Buram

    Tanda-tanda pandangan Tasya mulai berkurang saat dia duduk di bangku kelas II SMP. Dia mulai mengeluhkan berkuraknya jarak pandang.

    "Begitu tau matanya mulai kabur kami periksakan ke optik, setelah dicek mata Eilleen diketahui masing-masing minus 2,5 dan minus 2,75. Jadi kami belikan kacamata," kata Tiodor, ibu Tasya.

    Elwin menceritakan gejala awal Eilleen sebelum akhirnya divonis mengidap tumor germinoma yaitu pada Desember 2017. Ketika itu, gadis kelahiran 9 Oktober 2004 itu mengeluhkan pandangannya mulai kabur saat memandang ke arah papan tulis di sekolahnya.

    Tapi saat itu, keluarga yang awam terhadap penyakit, tidak menduga Tasya menderita tumor.

    Berselang beberapa hari, Tasya pun kembali mengeluh sering mudah mengantuk. Selain itu, persendian di kakinya sering terasa nyeri. Suhu tubuhnya pun meninggi dan daya ingatnya menurun.

    "Lama-lama, semakin lemah kakinya dan suatu hari tiba-tiba jatuh, karena kakinya lemah tak mampu menopang tubuh Eilleen. Kami bawa kusuk dan seminggu dia tak masuk sekolah," ungkap Tiodor yang juga guru di SMP Negeri 2 di Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut (PPGS), Kabupaten Pakpak Bharat, Sumut.

    Orangtuanya sempat membawa Eillen Tasya ke RSUD Sidikalang untuk mengetahui penyakit yang tengah diidap anak tertua mereka.

    "Di Rumah Sakit Sidikalang ditangani sama dokter anak dan sempat masuk IGD. Hasil pemeriksaan diduga Eilleen mengalami flu rematik. Namun karena keterbatasan peralatan, Eilleen kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Elisabeth di Medan dan dinyatakan terkena typus," ungkap Elwin.

    Dalam kondisi sakit pun, Eilleen Tasya tetap bersemangat untuk sekolah. "Harus sekolah aku ma, harus sekolah aku. Dia memaksakan diri. Ternyata saat sekolah, ia tumbang, lalu kami bawa ke RS Sidikilang. Lalu kami bawa ke RS Elisabeth, dia MRI otak. Setelah agak sehat, kami bawa lagi ke Sidikalang, tetapi tumbang lagi," ujarnya.

    Januari 2018, ketika hendak mengunjungi orangtua Elwin Tinambunan di Pekanbaru, Riau, anaknya kembali sakit, suhu tubuhnya tinggi. Tak mau ambil risiko, orangtua langsung membawa anaknya ke RS Eka Hospital Pekanbaru.

    "Januari orangtua kan mau operasi di Pekanbaru. Jadi saya pinjamlah mobil kakak, berangkat lah kami, tapi pas sampai Duri, tiba-tiba badan Eilleen panas lagi dan langsung kami larikan ke rumah sakit di Pekanbaru. Di sini lah baru ketahuan penyakit Eilleen," ucapnya.

    Maret 2018 sempat dilakukan tindakan operasi dan dokter hanya dapat mengangkat 50 persen tumor yang berada di kepalanya. Keterbatasan peralatatan tidak tersedianya radiasi tumor jenis LINAC (Linear Accelerator) yang menghasilkan sinar Gamma membuat Tasya harus dirujuk ke RS Murni Teguh Medan.

    Di rumah sakit tersebut, kembali Eilleen menjalani operasi di kepala untuk menyedot cairan yang berada di otaknya.

    "Saya cari tahu sinar Gamma tadi ada di mana saja, ternyata ada di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou Hospital, biaya Rp 270 juta. Di Malaysia pun ada biaya lebih besar sampai Rp 300 juta lebih," ujar Elwin yang merupakan pegawai BKD Pemkab Dairi.

    Padahal dari awal pengobatan hingga sampai saat ini Elwin dan Tiodor menggunakan biaya pribadi dan beberapa bantuan dari berbagai kalangan.

    Eilleen Tasya kini tengah berjuang melawan penyakit tumor germinoma yang bersarang di kepalanya. Semula anak yang mandiri, kini dia sangat bergantung pada perhatian orangtua untuk melakukan hal-hal kecil seperti makan, bahkan buang air dan lainnya.

    Sebab, kedua matanya kini tak lagi mampu melihat dan tubuhnya semakin melemah. Badannya harus duduk kursi roda untuk bergerak.

    "Pak, kenapa mata Tasya, nggak bisa lihat lagi?' Tiap kali Tasya nanya itu, saya gak bisa nahan nangis. Sudah hampir setahun mata Tasya nggak bisa lihat gara-gara ada tumor di otaknya. Saya cuma bisa bilang ke Tasya, "Enggak apa-apa, Nak. Nanti Tasya pasti bisa lihat lagi." Cuma itu yang bisa saya bilang buat nguatin Tasya. Sambil bilang itu, saya selalu berdoa buat Tasya. Tasya pingin banget bisa sekolah lagi. "Mau jadi dokter gigi," katanya.

    Seusai ngobrol denga putrinya, biasanya Elwin bakal menjauh sebentar dari Tasya karena tidak kuat menangis di hadapan anaknya. "Saya nggak bisa nangis di depan Tasya, karena kalau saya nangis, siapa lagi yang bakal nguatin Tasya?" tulis Elwin dikutip Tribun-Medan.com dari instagram milinya.

    Bahkan untuk menggerakkan anggota tubuhnya, Tasya selalu mengerang kesakitan menahan nyeri. Begitu juga ketika Tribun-Medan.com menyambangi rumah keluarganya di Jalan Air Bersih Gang Sutarjo No 16, Sidikalang, Dairi, Rabu (11/7/2018), Eilleen Anastasya hanya mampu terduduk lemah bersender di kursi roda tanpa mampu menegakkan punggungnya.

    "Kalau mau menggerak kan anggota tubuhnya pasti nangis, mungkin karena nyeri," kata Elwin.

    Tak hanya manguras air mata, perjuangan Tasya melawan tumor otak juga menguras finansial keluarga. Biaya pengobatan Tasya sangat tinggi, mencapai Rp 270 juta.

    Keluarga pun memohon bantuan donasi para dermawan untuk membantu Eilleen Tasya melalui situs kitabisa.com. Informasi lebih lengkap klik Bantu Tasya Melawan Tumor

    Info lebih lanjut dapat menghubungi Elwin, ayah Eilleen Tasya: +62 852-7145-8750

    Sumber : http://medan.tribunnews.com/2018/07/16/gadis-belia-bercita-cita-dokter-itu-terbaring-lemah-digergoti-tumor-otak-matanya-pun-sulit-melihat?page=all

    Dapatkan Info BERITA GOOGLE Setiap Hari Dengan LIKE PAGE FACEBOOK BERITAGOOGLE



    BeritaGoogle.com - Situs Berita Hari Ini Indonesia, Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, Kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia dan Gosip Artis


    Bantuan Anda, Berita Heboh, Berita International, Berita Terkini, Berita Unik, Cerita Cinta, Cerita Lucu, Cerita Mengharukan, Entertainment, Film Cinta, Film Lucu, Film Mengharukan, Handphone, Kesehatan, Kuliner, Orang Hilang, Penipuan, Sejarah, Slider, Sports, Tionghoa, Video, Zodiak
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Bantu Share Gadis Belia Bercita-cita Dokter Itu Terbaring Lemah Digerogoti Tumor Otak, Matanya Pun Sulit Meliha Rating: 5 Reviewed By: BG
    Scroll to Top